Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menelisik Relief Anyar di Museum PETA Blitar, Narasi, Abadikan Pahlawan Perjuangan

Muhamad Ilham Baha’udin • Minggu, 24 November 2024 | 19:15 WIB
TERPASANG: Para pekerja tengah memasang relief di Taman Plaza Museum Peta beberapa waktu lalu.
TERPASANG: Para pekerja tengah memasang relief di Taman Plaza Museum Peta beberapa waktu lalu.

BLITAR - Di tengah-tengah Kota Blitar bakal berdiri sebuah mahakarya sejarah yang baru saja rampung untuk tahap awal.

Yakni, relief sepanjang 21 meter yang berbentuk huruf U kini menghiasi Monumen PETA di halaman plaza Museum PETA. Karya monumental ini adalah narasi perjuangan para pejuang PETA.

BONDAN dengan cermat memulai kisah relief dari peristiwa Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati, Subang, pada 1942.

Peristiwa ini menjadi titik awal penjajahan Jepang di Indonesia sekaligus lahirnya propaganda “Jepang Cahaya Asia, Pemimpin Asia, dan Pelindung Asia”.

Dalam relief tersebut, tergambar juga sosok Gubernur Jenderal Jepang Hitoshi Imamura bertemu dengan Bung Karno di Istana Merdeka.

“Dalam pertemuan itu, Bung Karno mengajukan syarat untuk membantu Jepang harus dibentuk tentara pribumi. Dari sinilah PETA lahir, menggambarkan peran sentral Bung Karno dalam pembentukan tentara PETA,” ujar Bondan Widodo, seniman pemahat relief.

Relief ini kemudian melompat ke peristiwa kerja paksa (romusa) di Pantai Serang, Blitar, yang memantik pemberontakan Supriyadi bersama anggota PETA.

Bahkan, pertemuan rahasia Supriyadi dengan Bung Karno di belakang Gereja Santo Yusup, tempat Supriyadi meminta restu untuk memberontak, turut diabadikan dalam relief.

“Dalam pertemuan itu, Bung Karno melarang pemberontakan karena dianggap belum waktunya. Namun, Supriyadi tetap maju dengan keyakinannya,” ungkapnya.

Uniknya, relief ini juga menggambarkan sisi lain Bung Karno yang jarang diketahui banyak orang. Salah satu adegan menunjukkan Bung Karno mengikuti latihan militer di Bandung.

“Jangan salah, Bung Karno tidak murni sipil. Beliau juga memahami taktik dan strategi militer. Itu sebabnya beliau menekankan pentingnya armada kuat, baik darat, laut, maupun udara bagi Indonesia merdeka,” tandasnya.

Relief ini bukan proyek yang muncul tiba-tiba. Menurut Bondan, ide awal sudah dirancang sejak pembangunan Monumen PETA pada 2007.

Namun baru tahun ini dapat merealisasikan karya yang ia anggap sebagai pelengkap patung tentara PETA.

“Patung ini tanpa relief ibarat orang bisu. Relief ini adalah ceritanya. Tinggal kami buatkan buku panduan agar publik lebih memahami sejarah yang diabadikan,” jelasnya.

Relief sejarah perjuangan tentara PETA juga menegaskan posisi Blitar sebagai kota dengan ikon-ikon nasionalisme yang kuat. 

Bondan berharap karya ini melengkapi narasi besar yang sudah ada, seperti Istana Gebang dan Makam Bung Karno.

“Harapan saya, Monumen PETA menjadi simbol kuat perjuangan dan patriotisme, terutama bagi generasi muda. Ketika mereka datang ke sini, mereka tidak hanya melihat, tetapi juga belajar tentang semangat perjuangan,” pungkasnya. (ham/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#pahlawan #Relief #PETA #mahakarya #Kota Blitar