Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengenal Situs Balekambang di Desa Modangan Blitar, Warisan Majapahit dengan Tiga Tingkatan yang Dirancang Hayam Wuruk

Didin Cahya Firmansyah • Senin, 25 November 2024 | 21:00 WIB
MISTERI: Situs Balekambang di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok.
MISTERI: Situs Balekambang di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok.

BLITAR - Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, memiliki situs peninggalan Kerajaan Majapahit berupa batu umpak yang terjejer rapi. Situs tersebut adalah Situs Balekambang.

Situs Balekambang diperkirakan didirikan pada  tahun 1272 Saka atau 1350 Masehi. Tahun tersebut diketahui dari salah satu batu umpak yang berada di ujung timur dan tertulis dalam bahasa Sansekerta.

Menurut juru perlihara Situs Balekambang, Ari Widodo, situs di Desa Modangan ini merupakan tempat pendapa agung yang didirikan oleh Raja Majapahit ke-4, yaitu Hayam Wuruk.

Pendapa tersebut digunakan untuk berbagai aktivitas seperti peristirahatan para raja, musyawarah, tempat penggeladian para penggawa, serta tempat pendidikan.

Situs Balekambang ini terdiri dari batu umpak yang terjejer secara rapi. Konon, batu umpak itu merupakan fondasi dari pendapa ciptaan Hayam Wuruk itu.

“Jadi, batu umpak itu sebagai tempat untuk tumpangan papan kayunya,” ujarnya.

Berdasarkan hasil dari penelusuran yang dilakukannya dari internet, ditemukan sebuah relief bergambar rumah panggung dari Kerajaan Majapahit yang kemudian dicocokan dengan Situs Balekambang itu.

Hasilnya, Situs Balekambang ini memiliki desain tiga tingkatan. Pertama sebagai teras, kedua sebagai joglo, dan yang ketiga sebagai ruang utama.

Tingkatan pertama yakni teras merupakan sebuah altar yang digunakan untuk halaman pendapa. Di teras depan ini terdapat anak tangga yang terhubung ke bagian joglo.

Pada tingkatan kedua, terdapat empat buah batu umpak yang diyakni sebagai fondasi dari joglo. Joglo tersebut terhubung langsung ke ruang utama.

Ari menyakini sebenarnya desain dari joglo ke ruang utama memiliki penghubung yakni anak tangga. Bisa dibilang desain ruang utama lebih tinggi dari joglo.

“Kemungkinan ada punden berundak menuju halaman ketiga,” terangnya.

Tingkatan ketiga merupakan ruang utama pendapa. Ruang utama ini memiliki bentuk memanjang. Seperti namanya, Balekambang yang jika diartikan menjadi rumah mengambang, yakni rumah yang tidak tersentuh langsung dengan tanah. Ada fondasi penyangga yakni umpak.

Ari menambahkan, kayu yang digunakan untuk alas pendapa kemungkinan hanya diletakkan di atas umpak itu. Karena tidak ditemukan bekas lubang untuk tempat kayu berdiri.

“Biasanya ada lubang buat tiang saka, kalau ini tidak,” jelasnya.

Kemungkinan papan kayu yang digunakan untuk alas dari pendapa itu hanya diletakkan secara horizontal.

Kini, Situs Balekambang terus diperbaiki. Tujuannya diharapkan bisa menarik wisatawan dari berbagai daerah untuk mempelajari sejarah dan menikmati keindahan peninggalan Majapahit itu. (mg3/c1/din)

  

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#sejarah #Kabupaten Blitar #situs peninggalan majapahit #situs Balekambang