Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Misteri Situs Balekambang di Desa Modangan Blitar: Tempat Istirahat Raja hingga Pusat Pendidikan Prajurit

Didin Cahya Firmansyah • Selasa, 26 November 2024 | 21:00 WIB

 

MISTERI: Situs Balekambang di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, merupakan salah satu tempat pendapa agung Kerajaan Majapahit.
MISTERI: Situs Balekambang di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, merupakan salah satu tempat pendapa agung Kerajaan Majapahit.

BLITAR - Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, memiliki situs bersejarah dari Kerajaan Majapahit yang masih terawat baik.

Batuan umpak yang berjejer rapi adalah fondasi dari bangunan pendapa agung yang didirikan Raja Hayam Wuruk. 

Blitar memiliki situs bersejarah yang tersebunyi di pelosok pedesaan yang kini masih terawat dengan baik. Situs tersebut adalah Situs Balekambang.

Situs Balekambang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang berlokasi di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, atau tak jauh dari Situs Arca Warak.

Terdiri dari 36 umpak berbentuk persegi. Setiap umpak memiliki lebar dan tinggi rata-rata 75x75 sentimeter (cm).

Situs yang bercorak Hindu ini diperkirakan dibangun pada tahun 1272 Saka atau 1350 M. Hal tersebut diketahui karena pada salah satu umpak yang berada di ujung timur tertulis sebuah tahun dalam bahasa Sansekerta.

Juru pelihara Situs Balekambang, Ari Widodo mengatakan, situs ini dibangun pada masa pemerintahan raja Majapahit keempat yakni Hayam Wuruk. 

Ari, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa Situs Balekambang merupakan pendapa agung. Umpak yang tersusun secara rapi itu merupakan batu fondasi yang digunakan untuk menopang kayu, seperti rumah panggung namun berfondasi batu.

“Bedanya kalau kayu di rumah panggung lain diletakkan secara vertikal, kalau di sini (Situs Balekambang, Red) diletakkan secara horizontal, jadi memanjang,” ungkapnya.

Dia mengaku, Situs Balekambang ini digunakan dalam banyak hal, termasuk tempat peristirahatan raja-raja, tempat penggeladian para penggawa sebelum menjadi raja, serta sebagai tempat pendidikan. 

Penamaan Balekambang merupakan nama asli yang sudah diberikan pada masa Kerajaan Majapahit. Balekambang terdiri dari kata bale yang merujuk pada arti rumah, sedangkan kambang adalah mengambang.

Jika diartikan seluruhnya menjadi rumah mengambang karena bangunan tersebut ditopang oleh umpak-umpak, jadi tidak menyentuh tanah alias mengambang. “Konotasi mengambang itu kan identik air, jadi kalau kita menjelaskan itu ya bangunan yang masih ditopang saka-saka (umpak, Red),” terangnya.

Konon, berdasarkan kisah masyarakat dulu, Situs Balekambang ini memiliki bagian pelataran berupa batu bata merah besar berukuran masing-masing 30x20 cm yang berada di bawah umpak. 

Namun, seiring dengan berjalannya usia dan dampak dari bencana alam yang diperkirakan 600-an tahun silam, pelataran itu menjadi rusak.

Dia menyakini masih ada sisa pelataran yang terkubur di bawah walau sudah menjadi pecahan. Terbukti dari sisa batu bata yang masih tampak di bawah umpak dan beberapa temuan pecahan genting yang diduga dari atap pendapa agung Situs Balekambang.

Dia menyatakan pernah menemukan sebuah relief dan beberapa umpak saat sedang melakukan penggalian di area Situs Balekambang. Namun dikubur kembali dengan alasan keamanan dan tindakannya tersebut dianggap ilegal.

Apalagi, ada aturan tersendiri ketika mengevakuasi sebuah cagar budaya yang ditemukan. Misal, harus ada syarat yang terpenuhi untuk meneliti.

Situs Balekambang ini masih dalam tahap antrean penelitian. “Jadi tidak bisa sembarangan dan tidak bisa menyalahi aturan,” katanya.

Situs yang memiliki luas 10x70 meter persegi dan terletak pada lahan seluas 20x80 meter persegi ini berada di bawah naungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur.

Situs Balekambang ini mendapatkan perhatian pertama kali tahun 2009. Saat itu, ayahnya yakni Muhkyar merupakan seorang pensiunan dari Candi Penataran, tergerak untuk mengevakuasi situs bersejarah itu.

Dari tahun 2009-2012 dilakukanlah rekonstruksi tanah pada area Situs Balekambang dengan menyamakan bentuk situs aslinya.

Hingga kini, Situs Balekambang dirawat oleh dua orang yakni Ari Widodo dan Sri Suyanti. Harapannya bisa menjadi destinasi wisata edukasi bagi masyarakat luas.

“Semoga segera mendapatkan perhatian lebih. Pasalnya, untuk bisa menarik wisatawan, sarana dan prasarana yang memadai juga menunjang kenyamanan pengunjung,” pungkasnya. (*/c1/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Batuan #situs bersejarah #Kecamatan Nglegok #raja hayam wuruk