BLITAR - Banjir bandang di Kecamatan Binangun membuat rumah rusak hingga hanyut hingga akses jalan sempat terputus di Desa Sambigede.
Bahkan, tempat pemakaman umum (TPU) Desa Birowo porak-poranda hingga jenazah hilang. Dua peristiwa cukup parah ini terjadi pada Sabtu (30/11).
Banyak terlihat masyarakat yang gotong royong membersihkan material lumpur di dalam rumah dan akses jalan sabo dam Sungai Lemon di Desa Sambigede sejak Minggu (1/12) pukul 07.00 WIB.
Sebab, jalan tersebut merupakan akses utama penghubung dua dusun, yakni Sambigede dan Paldoyong. Jika akses jalur itu terputus, warga harus memutar melalui Desa Ngadri yang jaraknya lebih jauh sekitar 10 kilometer.
“Akibat hujan 3 hari ini berdampak banjir. Sabtu pukul 15.00 mulai hujan deras dan bertahan hingga malam. Air mulai menggenangi rumah sekitar Sungai Lemon pada Magrib. Sejam kemudian terjadi banjir bandang yang tingginya 1 meter hingga 2 meter,” kata pendamping Desa Sambigede, Hermawan Rahmad.
Dia melanjutkan, ada 25 rumah yang terdampak banjir di Dusun Paldoyong dan Sambigede. Dua di antaranya hanyut sehingga rumah tersebut tidak bisa ditinggali oleh penghuninya.
“Ada 14 rumah digenangi air dan 1 rumah hanyut di Dusun Sambigede. Sedangkan di Dusun Paldoyong, 10 rumah terdampak banjir dan 1 hanyut,” tuturnya.
Menurut Hermawan, rumah-rumah tersebut rata-rata berjarak 150 meter dari Sungai Lemon.
Namun, banjir bandang ini bercampur dengan batang pohon sehingga membuat dua rumah ikut tersapu air. Tentu barang dan harta benda korban yang rumahnya hanyut ini lenyap dan tidak bisa digunakan lagi.
Saat kejadian, airnya memang tinggi sekali hingga menyebabkan banyak pasir yang menutup akses jalan. Maka dari itu, masyarakat melakukan evakuasi menggunakan alat berat dan manual untuk membuka akses lagi.
“Bantuan makanan cepat saji dari BPBD sudah dikirim untuk warga terdampak dan kami anjurkan warga untuk mengungsi di tempat yang aman,” ujarnya.
Sementara itu, tidak jauh dari Desa Sambigede, banjir juga meluluhlantakkan TPU Desa Birowo, Kecamatan Binangun, hingga porak-poranda.
Puluhan makam rusak dan jenazah hilang usai bencana banjir bandang melanda pada Sabtu (30/11) malam.
Terlihat banyak masyarakat yang mengecek makam saudaranya. Mereka juga ada yang mencari makam kerabatnya yang telah hanyut terbawa arus sungai. Bahkan, jenazah yang hanyut itu pun hingga kini belum ditemukan.
“Ada yang hanyut, termasuk makam mbah saya. Jenazah yang ada di makam hanyut terbawa banjir. Ada empat jenazah saudara saya yang hilang dan belum ditemukan. Untungnya makam bapak saya aman, karena ada tiang listrik,” kata warga Desa Birowo, Kecamatan Binangun, Edy Susilo, Minggu (1/12).
Saat ini, warga bergotong royong membenahi sejumlah makam yang rusak. Beberapa di antara mereka juga tengah mencari keberadaan jenazah anggota keluarganya yang hanyut terbawa banjir.
Menurut Edy, bencana ini merupakan kejadian terbesar yang pernah melanda Desa Birowo, Kecamatan Binangun.
Beberapa waktu lalu, sungai di desa setempat pernah meluap, tapi dampaknya tidak sebesar saat ini.
“Saya tidak begitu tahu banjirnya, tapi listrik sampai mati. Air sungai yang awalnya kecil sampai meluap hingga ke atas jembatan. Bahkan membuat jembatan rusak,” ungkapnya.
Penyebab banjir bandang ini adalah hujan deras yang melanda wilayah Blitar, termasuk Kecamatan Binangun sejak tiga hari terakhir.
Intensitas hujan tinggi membuat debit air meluap dan merusak puluhan makam serta membanjiri permukiman warga. (jar/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila