Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Petani Blitar Merugi, Harga Cabai Keriting Jatuh di Bawah Ongkos Panen, Jasa Petik Rp 3 Ribu, Dijual Hanya Rp 1,5 Ribu

Agus Muhaimin • Rabu, 4 Desember 2024 | 17:00 WIB
PEDAS: Suasana lelang cabai di Koperasi Bejo Mulyo Lestari kemarin (3/12).
PEDAS: Suasana lelang cabai di Koperasi Bejo Mulyo Lestari kemarin (3/12).

BLITAR – Apes dialami petani cabai di Bumi Penataran akhir tahun ini. Sejak dua pekan terakhir, hasil panen mereka tidak laku.

Upaya petani cabai membangun kemitraan dengan perusahaan juga gagal karena belum bisa konsisten dalam suplai.

“Hari ini, harga lebih baik dari kemarin, tapi banyak petani tetap tidak mau panen karena masih sangat jauh dari untung,” ujar petani cabai, Imam Misbahudin.

Warga di Kecamatan Wonodadi ini mengatakan, harga cabai keriting kini sekitar Rp 4 ribu per kilogram (kg). Dua hari lalu, si merah pedas ini hanya dihargai Rp 1,5 ribu per kg. Padahal, upah atau jasa petik cabai Rp 3 ribu per kg.

Karena alasan ini pula, sebagian besar petani mengabaikan tanaman cabai miliknya. Tak jarang pula yang membabat habis cabai mereka untuk ditanami tanaman lain.

“Kami juga tidak tahu siapa yang buat harga cabai ini. Sayangnya, petani sering dalam posisi yang tidak diuntungkan,” keluhnya.

Produksi cabai di Bumi Penataran tahun lalu mencapai lebih dari 441 ribu kuintal dan menjadi salah satu daerah penghasil cabai terbesar di Jawa Timur.

Namun, angka tersebut merupakan akumulasi selama satu tahun yang notabene tidak sama kapasitas produksinya tiap bulan.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop dan UM) Kabupaten Blitar, Sri Wahyuni mengatakan, cabai menjadi salah satu barang yang bisa berdampak pada inflasi. Karena itu, pemkab berusaha melakukan upaya-upaya untuk stabilitasi harga.

“Saat ini sudah ada koperasi lelang cabai. Harapan kami, dengan adanya lembaga tersebut, Blitar bisa memiliki kemandirian dalam menentukan harga jual cabai,” katanya.

Sayangnya, hal itu tidak mudah dilakukan lantaran banyak petani yang belum masuk dalam koperaasi tersebut. Akibatnya, penjualan hasil pertanian tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.

“Lelang cabai ini hanya melingkupi wilayah Wonodadi, Udanawu, dan Srengat. Padahal, ada banyak petani cabai di kecamatan lain,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, pemerintah saat ini berupaya membentuk kelompok-kelompok petani cabai di setiap wilayah.

Dengan begitu, cabai yang keluar dari Bumi Penataran bisa dikontrol untuk mewujudkan stabilitas harga sekaligus melindungi petani.

Di lokasi terpisah, Ketua Koperasi Bejo Mulyo Lestari, Sofyan mengungkapkan, peserta lelang cabai mayoritas merupakan pedagang lokal.

Kendati begitu, cabai dari Kabupaten Blitar juga dikirim hingga luar daerah. “Tapi kalau saat ini harga lokal lebih baik ketimbang harga di pasar luar daerah,” katanya.

Dia mengaku pernah mengajukan kerja sama dengan perusahaan yang memiliki kebutuhan cabai. Sayangnya, komitmen tersebut tidak bisa dilanjutkan karena perusahaan membutuhkan kepastian suplai barang.

“Persoalan petani adalah cuaca. Kadang produksi bagus, kadang juga jeblok. Kalau perusahaan penginnya pasti suplai barang yang stabil,” tandasnya. (hai/c1/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #petani cabai #usaha mikro #Bumi Penataran