BLITAR - Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, memiliki monumen yang merupakan sebuah pemakaman massal dan didirikan sebagai bentuk penghormatan kepada para korban dari peristiwa meletusnya Gunung Kelud tahun 1919. Peristiwa kelam itu diabadikan pada monumen yang dikenal sebagai Tugu Rante.
Suasana ramai membanjiri jalan di simpang tiga Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, Blitar. Ditambah, lokasinya merupakan kawasan pasar.
Di lokasi yang sama, berdiri sebuah monumen bersejarah yang dilingkari rantai. Sesuai dengan kondisinya itu, monumen tersebut dinamakan Tugu Rante.
Monumen yang menjadi ikon Desa Bendo itu belum diketahui secara pasti kapan pembuatannya. Namun, dugaan kuat, tugu tersebut dibuat pada zaman penjajahan Belanda.
Itu dibuktikan dari peninggalan Belanda berupa kawasan perumahan yang disebut Ngloji. Lokasinya berada di sebelah barat lapangan Bendo. Hingga sekarang sudah diubah menjadi permukiman warga.
Tak hanya Ngloji, juga pernah ada stasiun kereta api, tapi sekarang sudah dihilangkan. Monument setinggi 2 meter itu menyimpan kisah kelam di dalamnya. Ternyata tugu tersebut merupakan tanda pemakaman massal.
Menurut Sekertaris Desa (Sekdes) Bendo, Jiwandono Kunto Wijaksono, monumen Tugu Rante adalah tempat bersemayamnya jasad para korban letusan Gunung Kelud yang terjadi pada 19 Mei 1919.
Letusan Gunung Kelud pada 105 tahun lalu itu mengakibatkan banjir lahar yang datang dari arah utara ke selatan dan mengalir deras di sungai timur monumen Tugu Rante.
Konon, terjangan banjir itu membawa banyak mayat yang kemungkinan korban dari wilayah utara yang ikut hanyut.
Kemudian, banjir lahar itu ikut menyapu kawasan Desa Bendo dan menewaskan beberapa warga kala itu.
Korban tersebut merupakan warga pribumi Desa Bendo, tapi sebagian lagi adalah prajurit batalyon Belanda yang tinggal di kawasan desa di Kecamatan Ponggok itu.
“Jadi, ada warga pribumi dan orang Belanda yang ikut jadi korban, karena waktu itu Bendo merupakan kawasan padat penduduk dan didiami banyak sekali orang Belanda,” ujarnya saat ditemui Selasa (10/12).
Sebagian korban kemudian dimakamkan di bawah tugu yang dulu berwujud sebuah lubang besar dan sebagian lagi di pemakaman lain.
Untuk mengenang para korban, ditulislah nama korban pada bagian depan monumen sisi timur.
Namun, dalam monumen Tugu Rante itu hanya mencantumkan enam nama yang merupakan penduduk Bendo dan semuanya merupakan prajurit batalyon.
“Kalau dihitung ada banyak korban yang dikubur di situ, tapi yang diketahui namanya ya hanya sebagian itu,” katanya.
Tulisan pada monumen Tugu Rante itu tertulis dalam bahasa Belanda.
IN MEMORIAM.
AMB. FUS. MANDOJO ALG STB No. 98384
“ “ KALIGIS “ “ “ 96397
“ “ SOERVOE “ “ “ 98492
“ “ MATAHERU “ “ “ 74454
“ KORP. AJAL “ “ “ 78968
INL. FUS. KARTOREDJO “ “ “ 74905
ALIAS PAINO
BIJ HET VERVULLEN VAN HUN PLIGHT OMGE NOMEN BIJ DE KLOETUITSBARSTING OP 19 MEI 1919
Jiwandono mengaku belum diketahui apa arti dari tulisan Belanda yang paling bawah itu. Dipercayai bahwa tulisan tersebut merupakan wujud penghormatan kepada para korban letusan Gunung Kelud itu.
Nomor yang tertera di akhir nama merupakan nomor anggota batalyon prajurit perang pada masa Belanda. Itu menandakan bahwa korban tragedi itu merupakan anggota batalyon.
Sekarang, monumen bersejarah itu masih terawat dengan baik. Pemerintah desa sendiri sering melakukan perbaikan ataupun pengecetan ulang monumen yang sudah menjadi ikon Desa Bendo itu. (*/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila