BLITAR – Miliaran rupiah harus dikantongi Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Penataran tahun depan.
Pasalnya, perusahaan milik daerah tersebut masih memiliki kerugian akumulatif sekitar Rp 1,7 miliar.
Direktur Utama PT BPR Penataran Kabupaten Blitar Perseroda, Sahrial Amri mengatakan, keuangan perusahaan dalam kondisi positif.
Target laba tahun ini hampir dipastikan bisa dipenuhi. Kini hanya tinggal persoalan likuiditas yang diyakini tuntas saat tutup buku.
“Per November, target sudah tertutup sekitar Rp 955 juta. Tahun lalu kita capai sekitar Rp 565 juta,” terangnya.
Sayangnya, laba usaha tersebut tidak otomatis menjadi pendapatan daerah. Sebab, perusahaan ini masih terhitung memiliki kerugian sejak menajalankan usaha belasan tahun silam.
Amri mengungkapkan ada beberapa syarat agar perusahaan daerah yang mengelola keuangan ini bisa berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Salah satunya, tidak ada kerugian yang notabene menjadi beban usaha.
“Saat pengurus baru mulai bekerja, kami mengetahui bahwa perusahaan ini masih belum sehat. Ada kerugian operasional sekitar Rp 42 miliar,” ungkapnya.
Nominal tersebut dipicu oleh banyak faktor, misalnya kredit macet. Hal itu secara otomatis membuat modal usaha tidak berputar.
Menurut dia, jajaran manajemen sudah berupaya optimal untuk melakukan penyehatan perusahaan. Bahkan, perusahaan juga melibatkan aparat penegak hukum dalam proses tersebut.
Langkah tersebut, kata dia, tergolong efektif. Karena itu dalam beberapa tahun terakhir mulai ada titik terang terhadap kasus kredit macet yang selama ini mengganggu perkembangan usaha.
“Jadi, laba usaha selama ini hanya untuk menutup kerugian operasional. Agar dapat berkontribusi kepada pendapatan daerah, hal itu harus diselesaikan dulu. Kalau soal modal inti perusahaan yang sebelumnya sempat jadi kendala, kini sudah memenuhi syarat,” terangnya.
Pihaknya belum bisa menjanjikan setor pendapatan pada 2025. Sebab, sisa kerugian operasional yang kini harus diselesaikan ada sekitar Rp 1,7 miliar. Karena itu pula, pihaknya menargetkan laba usaha tahun depan bisa lebih signifikan.
“Target kami tahun depan, Rp 1,7 miliar kerugian operasional perusahaan bisa ditutup dengan laba usaha tahun 2025. Sehingga berikutnya bisa segera berkontribusi untuk pendapatan daerah,” pungkasnya. (hai/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila