Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

2.401 Warga Kabupaten Blitar ODGJ Berat, Terpantau 29 Orang Masih Dipasung

Fajar Rahmad Ali Wardana • Selasa, 17 Desember 2024 | 17:01 WIB
BERSIH: Warga sedang mendapatkan layanan di Klinik Jiwa RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
BERSIH: Warga sedang mendapatkan layanan di Klinik Jiwa RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.

BLITAR — Lebih 2 ribu warga Kabupaten Blitar mengalami gangguan jiwa berat hingga November tahun ini, berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar.

Fenomena ini didominasi karena faktor ekonomi, keluarga dan keturunan.

Bahkan sebagian pasien terpaksa harus dipasung demi keamanan semua pihak.

Data di dinkes mulai hingga November terdapat 2.401 warga Kabupaten Blitar tercatat mengalami gangguan jiwa berat.

Selain itu, ada 29 pasien gangguan jiwa masih dipasung hingga saat ini. 

“Jumlah pasien jiwa yang dipasung itu sudah turun. Awalnya 35 orang, beberapa bulan lalu dilakukan pelepasan oleh dinas sosial sebanyak 6 pasien jiwa. Mereka dilakukan perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya,” ujar Subko Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Blitar, Hyndra Satria.

Dia melanjutkan, seseorang yang masuk kategori orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat di antaranya karena sering mengamuk di luar batasan hingga tidak terkendali.

Bahkan sebagian juga membahayakan keselamatan orang lain sehingga harus dipasung. 

Hydnra menyebut ada beberapa faktor menyebabkan ribuan orang ini mengalami gangguan jiwa berat.

Namun terbanyak karena faktor ekonomi, disusul faktor keluarga dan hanya sedikit ditemui karena faktor keturunan.

Seseorang banyak yang terlalu memikirkan ekonomi keluarganya, hingga membuat mereka depresi. 

“Ribuan ODGJ berat ini dipastikan mendapatkan penanganan seperti rutin kontrol di puskesmas maupun rumah sakit. Sedangkan untuk sejumlah orang tidak bisa datang ke fasyankes, maka obat akan dititipkan ke kader kesehatan jiwa di masing masing wilayah,” ungkapnya. 

Selain penanganan di fasilitas kesehatan, sebagian keluarga pasien juga memilih perawatan mandiri di rumah.

Dalam hal ini, keluarga tetap dimonitor secara berkala oleh petugas kesehatan untuk memastikan pasien mendapatkan perawatan yang tepat.

Pendekatan berbasis komunitas juga terus dilakukan untuk memberikan edukasi kepada keluarga ODGJ tentang cara merawat pasien di rumah. Lantaran agar pasien tetap mendapatkan perawatan optimal dan dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Hyndra menegaskan, penanganan ODGJ tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga perlu dukungan penuh dari keluarga dan masyarakat.

Stigma terhadap ODGJ harus diminimalkan agar pasien tidak merasa terisolasi, yang justru dapat memperburuk kondisi mereka.

“Dukungan emosional dan lingkungan yang positif sangat penting untuk membantu proses pemulihan pasien gangguan jiwa berat. Dengan kolaborasi baik antara petugas kesehatan, keluarga, dan masyarakat, kami optimis kondisi ODGJ di Kabupaten Blitar bisa terus membaik,” pungkasnya. (jar/din)

"Kami sudah menunggu event seperti Ijen Run and Charity ini, tentu sangat positif."  Owner Senyum Media Nusantara Bondowoso  ABDUL KHOLIK
"Kami sudah menunggu event seperti Ijen Run and Charity ini, tentu sangat positif." Owner Senyum Media Nusantara Bondowoso ABDUL KHOLIK
Photo
Photo
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#dinkes #Kabupaten Blitar