BLITAR – Capaian pendapatan dari retribusi pasar hingga awal Desember ini masih 64 persen, masih rendah dari targetnya 70 persen. Padahal 2024 hanya menyisakan 2 minggu lagi untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
Pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pasar ini memang dalam beberapa tahun terakhir seret atau rendah.
Bahkan Disperindag tidak menargetkan pendapatan ini bisa mencapai 100 persen, karena menyadari kondisi pasar saat ini tidak seramai sebelum korona melanda.
"Target pendapatan dari retribusi pasar masih belum terpenuhi. Sekarang capaiannya masih Rp 2,8 miliar dari target Rp 4,7 miliar. Kami masih memacu sampai akhir Desember ini. Semoga ada peningkatan," kata Kepala Disperindag Kabupaten Blitar, Darmadi.
Dia melanjutkan, target pendapatan retribusi pasar sebesar Rp 4,7 miliar itu untuk 13 pasar tradisional yang dikelola Disperindag Kabupaten Blitar. Paling besar PAD ini disumbang oleh Pasar Wlingi yang memang pedagang dan pembelinya cukup ramai.
Menurutnya, banyak faktor yang membuat capaian target pendapatan dari retribusi pasar di Kabupaten Blitar masih rendah. Saat ini, para pedagang sering mengeluh kondisi pasar sepi.
Dampaknya para pedagang yang kiosnya di dalam tidak rutin berjualan di pasar. Hanya kios yang di pinggir jalan yang terlihat masyarakat dapat bertahan hingga saat ini. Kondisi itu sangat mempengaruhi terhadap pendapatan retribusi.
“Kami hanya menarik retribusi ketika pedagang melakukan aktivitas transaksi atau jual beli. Kami juga ada kendala terkait retribusi di Pasar Kesamben pasca terjadi kebakaran. Maka dari itu, retribusi Pasar Kesamben tidak bisa maksimal,” ungkapnya.
Saat ini para pedagang masih menempati tempat penampungan sementara. Padahal dulu Pasar Kesamben juga penyumbang retribusi terbesar kedua, setelah Pasar Wlingi.
Nasib pasar ini sudah jelas, karena akan direvitalisasi pada tahun depan, dengan bantuan anggaran dari pemerintah pusat.
Menurut Darmadi mengatasi pasar yang sepi ini, Disperindag berupaya meramaikannya dengan salah satu upayanya, yakni program ASN belanja di pasar.
Bahkan dalam sekali berjalannya progam ini, perputaran uangnya mencapai Rp 1 miliar. Karena para ASN diharuskan belanja di pasar minimal Rp 100 ribu.
Tidak hanya itu, Disperindag juga sedang mengembangkan konsep menggabungkan pasar kuliner dan pasar tradisional. Ke depan, Darmadi berharap tiap pasar tradisional ada tempat khusus untuk food court.
"Sekarang yang sedang kami siapkan di Pasar Nglegok. Dulu Pasar Nglegok mati dan sekarang sudah dibangun. Kami sedang menggodok konsep dengan pedagang terkait penerapan pasar kuliner dan pasar tradisional di Pasar Nglegok," pungkasnya.(jar)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila