Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ingin Menjadi Inspirasi Masyarakat, Begini Perjuangan Komunitas Ketimbang Ngemis Bantu Pedagang Kecil di Blitar

Fajar Rahmad Ali Wardana • Kamis, 19 Desember 2024 | 21:00 WIB

 

PEDULI SESAMA: Komunitas Ketimbang Ngemis Blitar memborong barang PKL di Kota Blitar.
PEDULI SESAMA: Komunitas Ketimbang Ngemis Blitar memborong barang PKL di Kota Blitar.

BLITAR - Kini, Komunitas Ketimbang Ngemis Blitar memang sedang vakum dari semua aktivitasnya.

Meskipun begitu, Sila Ayu Fajrin, salah seorang anggota, berharap masyarakat dapat mengukuti langkah yang dilakukannya bersama teman-teman komunitas untuk membantu nasib pedagang kecil.

Ketika bertemu dengan pedagang kecil di Blitar Raya, jangan lupa membeli dagangannya. Coba tanyakan juga latar belakangnya.

Siapa tahu, meski pedagang tersebut kekurangan, namun tetap semangat berdagang. Tidak meminta-minta alias mengemis.

Kondisi seperti itulah yang menjadi target Komunitas Ketimbang Ngemis. Jika masuk kriteria, pedagang yang bersangkutan bakal mendapat bantuan dari komunitas tersebut.

Sila Ayu Fajrin, salah seorang anggota komunitas Ketimbang Ngemis menceritakan, komunitas tersebut terbentuk di Blitar pada 2016 silam.

Dia diajak gabung oleh pendiri komunitas ini dan mengajak teman lain untuk ikut menjadi anggota.

Memang banyak komunitas sosial di setiap daerah, tapi mereka tidak berhubungan secara langsung.

Komunitas Ketimbang Ngemis di setiap daerah berjalan sendiri-sendiri. Bahkan sempat dibuat kepengurusan pusat, tapi tidak bertahan lama karena kurang efektif.

Sila -sapaan akrabnya- mengaku, sasaran komunitas ketimbang Ngemis lebih fokus kepada orang yang memiliki niat usaha dan keinginan berjuang. Kemudian, mereka yang memiliki kemampuan terbatas dan tidak bisa mencukupi seluruh kehidupannya, khususnya terkait ekonomi.

Bermodal aplikasi jejaring sosial, Sila dan rekan-rekan berkoordinasi di grup chatting. Teknisnya, para anggota dipersilakan melaporkan adanya pedagang yang ditemui di jalan.

Baca Juga: Komunitas Musik di Blitar Butuh Ruang Berkreasi, Demi Jaga Eksistensi dalam Berkarya

Bukan pedagang besar, melainkan para pedagang kecil yang punya latar belakang ekonomi serbakekurangan. Yang tetap menolak mengemis dan lebih memilih menjaga martabat dengan cara berdagang.

Nah, laporan yang diterima akan dikaji para pengurus komunitas. Apabila dinilai layak, pengurus akan mengunggah profil si pedagang di beberapa laman media sosial milik komunitas.

Tujuannya menggugah kesadaran masyarakat. Pada waktu yang sama, pengurus membuka donasi bagi siapa pun yang ingin membantu si pedagang. "Kalau cocok, kami survei lalu kami up di medsos. Lalu kami open donasi," kata Sila.

Ketimbang Ngemis selanjutnya memilih bantuan yang akan diberikan ketika donasi terkumpul. Bisa berupa uang tunai, bahan pangan seperti sembako, atau borong dagangan si penjual.

"Kami datangi rumahnya dan lihat kebutuhannya. Misalnya kalau gerobaknya sudah reyot dan tidak layak, ya diberikan gerobak baru untuk jualan," jelas ibu satu anak itu.

Tak tanggung-tanggung, donasi yang terkumpul bisa mencapai belasan juta dalam satu kali open donasi. Bahkan, Sila menyebut jumlahnya bisa Rp 14-18 juta. Tapi, itu cerita lalu sebelum pandemi. Pasalnya, kini donasi yang diterima komunitas kian seret, dan bahkan sekarang 2 tahun vakum.

“Komunitas memang sudah 8 tahun berdiri. Namun juga beberapa kali mengalami vakum, seperti saat ini. Karena masalah waktu, apalagi semua anggota pasti memiliki kesibukan masing-masing. Hal ini yang menjadi tantangan bagi kami,” kata perempuan 34 tahun ini.

Menurut dia, kondisi ini hampir dirasakan pada komunitas sosial di mana pun. Karena gerakan sosial ini tidak untuk profit dan otomatis anggotanya melakukannya atas dasar kesadaran, kemauan, dan kerelaan masing-masing. Tantangan terbesar memang pada waktu para anggotanya sendiri, karena harus membagi waktu dengan kesibukan.

Sila mengungkapkan cerita yang baginya berkesan selama di Komunitas Ketimbang Ngemis ini. Yakni, mereka sempat membantu seorang warga Kecamatan Gandusari dan tanpa disadari, setelah itu viral banyak yang membantunya.

“Setelah itu, jadi bukan malah membantu. Justru bumerang bagi diri warga Gandusari itu. Karena dia mendapatkan bantuan tidak hanya dari Komunitas Ketimbang Ngemis, tapi juga dari pihak luar. Namun justru uangnya disalahgunakan,” ungkap Sila.

Bahkan, Pemkab Blitar sempat membantu warga tersebut. Dari banyaknya bantuan itu, warga Gandusari tersebut ingin memanfaatkan momen ini agar lebih banyak mendapatkan bantuan secara langsung.

“Hal itu yang berkesan bagi saya. Namun, menurut saya hal lumrah terjadi bagi seseorang yang sedang butuh bantuan,” tuturnya. (*/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#pedagang kecil #Komunitas Ketimbang Ngemis Blitar