Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Misteri Candi Sumbernanas di Ponggok Blitar Situs Hindu Abad ke-10 yang Dijuluki Candi Bubrah

Didin Cahya Firmansyah • Minggu, 22 Desember 2024 | 19:00 WIB
BERSEJARAH: Candi Sumbernanas yang berada di tengah persawahan Desa Rejoso, Kecamatan Ponggok.
BERSEJARAH: Candi Sumbernanas yang berada di tengah persawahan Desa Rejoso, Kecamatan Ponggok.

Blitar - Di Desa Rejoso, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, memiliki situs kuno Candi Sumbernanas yang berasal dari abad ke-10.

Situs yang sering dijuluki sebagai Candi Bubrah oleh masyarakat sekitar pertama kali ditemukan pada zaman kolonial Belanda setelah bencana letusan Gunung Kelud.

Kini situs Candi Sumbernanas masih eksis sampai saat ini.

Menurut juru pelihara Candi Sumbernanas, Edy Swara, candi ini diperkirakan sudah ada dari abad ke 10-11 Masehi.

Hal ini berdasarkan dari gaya bangunannya yang terlihat lebih seperti gaya beberapa candi di Jawa Tengah, namun juga merupakan peralihan corak gaya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Candi Sumbernanas memiliki latar belakang agama Hindu, yang berdasarkan temuan arca Siwa Mahadewa dan arca Brahma yang pernah ada di candi tersebut, dan sekarang berada di Museum Penataran.

“Tahun berapa dipindahkannya itu tidak ada berita acara, jadi dulu di sini ada arcanya itu,” ujar Edy, sapaan akrabnya.

Dia menjelaskan, candi itu dulunya berfungsi sebagai tempat pendarmaan atau tempat ibadah.

Karena keberadaan pintu masuk yang berada di sebelah barat, merupakan ciri tempat ibadah pada masa kerajaan.

Selain itu, Candi Kalicilik yang berada 3 km dari Candi Sumbernanas, memiliki bahan yang sama yakni batu bata merah. Bisa dipastikan kedua candi itu dibuat pada zaman kerajaan sama.

“Kalau dari tahun, mungkin keluar masuknya tahun ya dipastikan hampir berdekatan,” terangnya.

Candi Sumbernanas pertama kali ditemukan pada tahun 1919 pada masa kolonial Belanda, yakni ditemukan oleh Jendral Raffles. 

Saat itu, penemuan candi sudah dalam keadaan hancur atau berserakan, karena ditemukan pasca-meletusnya Gunung Kelud. Diduga candi tersebut juga terdampak dari bencana alam 105 tahun silam itu.

Nama Sumbernanas sebenarnya bukan nama familiarnya. Penamaan Candi Sumbernanas diberikan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) karena situs ini berada di Dusun Sumbernanas.

Sejak dulu, masyarakat lebih menyebutnya Candi Bubrah (bahasa Jawa) karena kondisi candi yang sudah tidak utuh dan komponennya yang terlihat berserakan.

“Coba saja tanya ke masyarakat radius 2 km dari sini, mereka lebih tahu nama Candi Bubrah dari pada Candi Sumbernanas,” tuturnya.

Edy mengatakan, Candi Sumbernanas belum pernah mengalami pemugaran, hanya saja tahun 1960-an pertama kalinya candi tersebut dikelola. 

Candi Sumbernanas memiliki ukuran fondasi 7,2x7,4 m. Sedangkan di tengah fondasi tedapat ruang berbentuk persegi berukuran 2,5x2,5 m dengan tinggi 1,15 m.

Hingga kini, Candi Sumbernanas masih terbuka untuk wisata dan setiap bulannya, menghasilakan rata-rata 100 pengunjung, dengan jam operasional dari pukul 07.00-14.00.

Tak hanya dari kalangan pelajar, candi di Kecamatan Ponggok ini kerap dikunjungi wisatawan untuk melakukan ritual.

“Jadi ada beberapa jenis pengunjung salah satunya pengunjung wisata religi,” ungkapnya

Masyarakat sekitar menggunakan Candi Sumbernanas sebagai punden atau tempat sacral.

Sebab dipercaya bahwa tempat tersebut merupakan tempat persemayaman arwah leluhur. Jadi ketika warga memiliki hajat, candi itu dijadikan tempat meminta izin kepada leluhur.

Selain kondisi candi yang belum berbentuk sempurna, akses menuju lokasi juga sulit yakni berada di area persawahan, tak heran jika masih sepi pengunjung. (mg3/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#kecamatan ponggok #Candi Sumbernanas