Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sosok Ibu Bagi Drh. Tika Fitria: Beternak itu Seni, Ajarkan Anak Sayangi Hewan untuk Latih Kepedulian

Muhamad Ilham Baha’udin • Senin, 23 Desember 2024 | 16:15 WIB
Sosok ibu menurut drh. Tika Fitria
Sosok ibu menurut drh. Tika Fitria

BLITAR - Bagi Drh. Tika Fitria, Desa Tlogo di Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar merupakan panggung besar untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Sebagai dokter hewan, peternak, dosen, sekaligus ibu, Tika menjalani hidup penuh dedikasi yang mampu menginspirasi siapa saja.

Sejak kecil, cita-cita menjadi dokter hewan telah melekat. “Itu salah satu dari sekian banyak mimpi masa kecil saya,” kenangnya.

Namun, titik balik muncul saat usahanya di bidang peternakan unggas sempat pasang surut di era pandemi. Dari situ, ia mulai menekuni peternakan domba, khususnya domba Dorper asal Australia.

“Domba Dorper itu menarik, badannya kekar dengan kepala hitam yang khas. Awalnya, saya ikut kontes domba bukan untuk menang, tapi untuk belajar dan membangun jaringan,” ungkapnya. Usaha ini kini berkembang pesat, melengkapi keberlanjutan usaha unggasnya yang sudah lebih dulu berjalan.

Hari-hari Tika dimulai sejak pagi dengan aktivitas mengajar di UNU Blitar, tempatnya menjadi dosen aktif.

Tak hanya itu, dia juga mengantarkan anak ke sekolah sebelum melanjutkan tugasnya sebagai dokter hewan dan peternak.

“Tanggung jawab saya di peternakan lebih fokus ke kesehatan hewan. Untuk manajemen dan jual beli, itu dipegang oleh suami saya, Muhamad Asrofi,” jelasnya.

Sebagai dokter hewan, dia juga menjalankan praktik keliling ke peternak-peternak di Blitar. Selain itu, ia menangani hewan peliharaan seperti kucing di klinik Fanatique miliknya yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Kota Blitar. “Semua ini bisa berjalan karena adanya dukungan penuh dari keluarga,” tambahnya.

Di antara banyak pengalaman, ada satu momen yang tak terlupakan baginya. “Saat pertama kali membuka kandang domba, saya pikir dombanya mundur karena takut. Ternyata, itu ancang-ancang untuk menyeruduk,” ujarnya sambil tertawa.

Namun baginya, kebahagiaan terbesar adalah melihat senyum pemilik ternak ketika hewan mereka sehat dan produktif. “Itu adalah penghargaan terbesar dalam pekerjaan saya,” katanya penuh syukur.

Kunci kesuksesan menurutnya adalah komunikasi yang solid dengan suaminya. Mereka rutin berdiskusi tentang pengelolaan ternak dan menghadiri seminar bersama untuk terus belajar.

“Suami saya adalah partner kerja terbaik. Kami saling mendukung dan melengkapi peran masing-masing,” bebernya.

Nilai-nilai tersebut juga ditanamkan kepada anak-anak mereka. “Kami selalu mengajarkan pentingnya kasih sayang terhadap hewan. Prinsip animal welfare harus menjadi pedoman utama,” tandasnya.

Melalui perjalanannya, Tika ingin menyampaikan pesan kepada perempuan lain, terutama para ibu yang bekerja di berbagai bidang.

“Beternak itu seni, jika dilakukan dengan sepenuh hati hasilnya tidak akan mengkhianati usaha. Berikan yang terbaik, dan hasilnya akan kembali berlipat. Wong Blitar ora ternak ora penak,” ujarnya mantap. (ham/sub)

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#dedikasi #dokter hewan #ibu #peternakan domba