BLITAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar menargetkan tahun depan ada lahan tanam padi sekitar 42 ribu hektare (ha).
Hal itu diusahakan dengan menambahkan area tanam padi dan mengurangi komoditas tertentu. Tahun ini, produksi padi masih belum bisa maksimal karena masih mengalami defisit.
Kepala Bidang (Kabid) Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Hikma Wahyudi mengatakan, untuk mengatasi adanya defisit padi yang terjadi beberapa tahun terakhir, pemerintah akan menargetkan penambahan area tanam padi.
Karena, Oktober 2023 hingga September 2024, sawah yang ditanami padi hanya mencapai 38,8 ribu ha.
“Kami menargetkan tahun depan area tanam padi bisa mencapai 42 ribu ha. Itu target dari pemerintah pusat untuk Kabupaten Blitar. Dimungkinkan komoditas tertentu justru berkurang ketika area sawah padi ditambah. Hal itu pasti, apalagi Blitar petaninya beragam,” ujar Hikma.
Dia melanjutkan bahwa area sawah tidak tambah, justru berkurang karena alih fungsi. Maka dari itu, dia mengorbankan atau mengalihkan lahan komoditas lain untuk menambah area tanam padi.
Sebab, hal itu untuk mewujudkan Kabupaten Blitar dapat surplus padi sepanjang tahun dan mengirim ke luar daerah.
Pasokan padi dari Bumi Penataran ini dibutuhkan, terutama di kota yang tidak ada daerah persawahan atau lahan sempit. Mereka menghendaki padi dari kebupaten yang produksi melimpah.
Berdasarkan data dari DKPP, rata-rata ada lahan padi 2 ribu ha tiap bulan. Terbanyak 6 ribu-9 ribu ha. Jumlah itu terjadi pada Desember 2023 hingga Maret 2024.
Hikma menyebut di Kabupaten Blitar pernah terdapat area tanam padi yang jumlahnya cukup tinggi mencapai 50 ribu ha.
Namun, hal itu terjadi pada tahun lalu. Kini para petani banyak beralih menanam komoditas lain.
“Kebijakan menambah area tanam padi ini juga berdampak pada area tanam jagung. Padahal tahun ini area tanam jagung sudah menyentuh 52 ribu ha, melebihi target dari pemerintah pusat 51 ribu ha,” ungkapnya.
Kabupaten Blitar yang dikenal daerah sentra peternak ayam pastinya membutuhkan pakan jagung.
Ketika area sawah jagung diubah tanam padi, tentu pakan ternaknya yang berkurang. Meskipun begitu, pemerintah tidak bisa memaksakan kehendak petani untuk menanam tanaman apa pun.
Area tanam padi tahun ini turun, sedangkan area tanam jagung bertambah. Karena fokusnya beberapa tahun ini memang jagung untuk kebutuhan peternakan. Tanaman tersebut dianggap lebih menguntungkan untuk petani.
“Kami tidak bisa memaksa para petani. Hanya persuasif, kalau tanam padi, kami dukung benih dan pupuknya. Karena kami juga memikirkan para peternak. Ketika padi dianggap lebih menguntungkan, pasti petani tanpa disuruh akan menanam sendiri,” pungkasnya. (jar/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila