BLITAR – Calon wali kota Blitar terpilih, Syauqul Muhibbin, yang lebih dikenal dengan nama Mas Ibin, membagikan kisah hidupnya dalam sebuah podcast di YouTube Radar Blitar TV pada September 2024.
Dalam kesempatan tersebut, Mas Ibin mengungkapkan berbagai pengalaman yang membentuk pandangannya tentang kebijakan pemerintah dan bagaimana hal tersebut mendorongnya untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat Blitar.
Saat diwawancarai oleh host podcast, Mas Ibin ditanya mengenai apa yang mendorongnya untuk selalu mendengarkan unek-unek masyarakat dan kritis terhadap kebijakan pemerintah.
Ia menjawab, “Sebenarnya kalau melihat pemerintah itu sudah bagus kebijakannya, cuma kan terkadang memang ada wilayah masyarakat, terutama marginal, yang tidak tersentuh kebijakannya. Itu yang sering saya perhatikan.”
Mas Ibin kemudian menceritakan pengalaman yang sangat berkesan baginya, yaitu mengenai banyaknya tenaga migran yang pulang ke Blitar dengan bekal uang yang terbatas dan keterampilan yang kurang memadai.
“Waktu itu banyak orang pulang dari luar negeri, uang sakunya nggak banyak, dan skill mereka kebanyakan bekerja di pabrik, bukan wiraswasta. Begitu mereka kembali ke Blitar, mereka bingung harus bekerja apa,” ungkapnya.
Ia menambahkan, salah satu pekerjaan yang bisa dilakukan oleh para tenaga migran tersebut adalah mengangkut pasir dan pekerjaan lain yang hampir sama, namun kebijakan standarisasi yang diterapkan pada waktu itu justru membuat mereka terhambat.
“Waktu itu, truk pasir mereka dirazia, bahkan dihancurkan, dan mereka tidak boleh beroperasi di kota. Itu sangat menyedihkan, karena mereka hanya bisa bekerja seperti itu dan tiba-tiba harus berhenti,” ujarnya.
Mas Ibin mengaku bahwa kejadian tersebut sangat menggugah hatinya. “Saya masih mahasiswa waktu itu, dan saya punya jiwa aktivis. Melihat orang-orang ini terhimpit oleh kebijakan yang tidak berpihak pada mereka, saya merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu,” ungkapnya.
Sebagai seorang mahasiswa akhir yang membutuhkan uang untuk hidup, Mas Ibin mengaku pernah merasakan kesulitan tersebut.
“Saya waktu itu harus mencari uang untuk makan. Saya pernah jadi kuli gas, angkut-angkut barang, sampai akhirnya saya mendapatkan pekerjaan di Jakarta pada tahun 2009,” jelasnya.
Sebagai seorang aktivis pada waktu itu, calon wali kota Blitar ini menegaskan bahwa prinsipnya adalah memisahkan idealisme dan kepentingan pribadi.
“Dulu saya punya prinsip yang tegas, yaitu tidak boleh mencampuradukkan idealisme dengan kepentingan pribadi. Sebagai mahasiswa, saya harus bekerja untuk bertahan hidup, tapi itu tidak menghalangi saya untuk tetap memperjuangkan kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Melalui kisah hidupnya, Mas Ibin menekankan pentingnya menciptakan kebijakan yang dapat menyentuh semua lapisan masyarakat.
“Pemerintah harus memperhatikan mereka yang paling membutuhkan, seperti tenaga migran yang pulang ke Blitar. Mereka butuh lapangan pekerjaan yang jelas dan bukan sekadar dihentikan begitu saja,” tegasnya.
Ia juga berkomitmen untuk membawa perubahan bagi Blitar jika terpilih sebagai wali kota. “Saya ingin memastikan bahwa setiap warga Blitar mendapatkan kesempatan yang adil untuk berkembang dan bekerja,” pungkasnya. (*)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila