Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Fenomena Telur Akhir Tahun di Kabupaten Blitar, Permintaan Tinggi, Produksi Turun

Agus Muhaimin • Rabu, 25 Desember 2024 | 20:05 WIB
STABIL: Peternak sedang memberi pakan ayam petelurnya.
STABIL: Peternak sedang memberi pakan ayam petelurnya.

BLITAR — Harga telur hampir dipastikan naik setiap pergantian tahun. Namun, hal ini tak lantas membuat para peternak ayam petelur di Bumi Penataran semringah.

Sebab, permintaan tinggi tersebut tidak sejalan dengan kapasitas produksi yang menurun karena cuaca ekstrem di akhir tahun.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, harga telur saat ini berkisar di angka Rp 27 ribu hingga 28 ribu per kilogram (kg).

Harga lebih tinggi bisa terjadi pada konsumen di luar daerah. Karena, mereka jauh dari pusat produksi komoditas peternakan tersebut.

Ketua Payuguban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Blitar, Roffi Yasifun mengatakan, harga telur dari peternak berkisar di angka Rp 26 ribu-Rp 26,5 ribu per kg.

Itu cukup wajar pada momen-momen besar seperti Hari Raya Idul Fitri maupun Natal dan Tahun Baru.

“Kami amati setiap pergantian tahun selalu ada kenaikan harga. Harga tersebut stabil sejak pekan pertama bulan ini,” katanya.

Dia mengungkapkan, kenaikan harga ini bukan hanya akibat permintaan tinggi. Cuaca tidak bagus di bulan Desember juga berdampak pada penurunan produksi sekitar 20 persenjika dibanding kondisi cuaca normal.

Permintaan tinggi yang tidak diimbangi dengan jumlah produksi yang memadai ini membuat harga telur naik.

“Tingkat penurunan produksi tiap peternak berbeda-beda. Ada yang hanya 5 persen atau 8 persen, tapi ada juga yang sampai 30 persen. Rasio penurunan produksi ini terpaksa ditutup dengan menaikkan harga sekitar Rp 2 ribu per kg,”jelasnya.

Harga telur Rp 26 ribu per kg hampir dipastikan tidak mungkin dinikmati masyarakat atau konsumen.

Sebab, para pedagang harus mengeluarkan ongkos untuk pengiriman barang agar sampai ke konsumen. Biasanya, kebutuhan distribusi tersebut diakumulasi mencapai Rp 1.000 per kg.

“Untuk wilayah yang bukan penghasil telur biasanya membutuhkan pedagang besar dan pedagang kecil untuk sampai ke tangan konsumen.

Nah, tiap level pedagang ini biasanya juga mengambil keuntungan dari risiko usaha,” katanya.

Pada kondisi tertentu, harga jual barang biasa lebih dari estimasi atau perhitungan harga tersebut. Sebab, ada penyusutan telur yang pasti dialami oleh pedagang.

“Telur tidak dijual bijian. Padahal jika tidak segera keluar pasti ada penyusutan berat. Nah, pedagang pasti tidak mau merugi, makanya harga kadang sedikit lebih tinggi dari perkiraan,” tandasnya. (hai/c1/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#pergantian tahun #Kabupaten Blitar #harga telur