21 Desember 2024
BLITAR - Kamis pagi (19/12), di kedai kopi Dikasih Kopi, tepi Pantai Serang, Kecamatan Panggungrejo diadakan kegiatan diskusi oleh kolaborasi Yayasan Andi dan Dina dan Komunitas Patria Wastra.
Yayasan Andi dan Dina pada awal November lalu mendapatkan dukungan dari Kementerian Pendidkan Kebudayaan Riset dan Teknologi untuk melakukan kegiatan bertajuk India-Indonesia Textile Cultural Exchange and Forum di Gujarat, India.
Kegiatan ini memaparkan hasil dari kunjungan pertukaran budaya tersebut. Peserta yang hadir adalah beberapa anggota Patria Wasta, Putra Putri Batik Blitar, mahasiswa, perajin batik, petani muda, maupun masyarakat setempat.
Acara dibuka oleh Dita Faisal sebagai host dan dimoderatori oleh Gading Ma, pemrakarsa Patria Wastra. Lalu Hilman Afriandi atau biasa disapa Andi sebagai founder Yayasan Andi dan Dina membawakan materi mengenai kedaulatan sandang.
Dari kegiatan di Gujarat, bisa dilihat bahwa pemerintah setempat mendorong masyarakat untuk mengimplementasikan ajaran Mahatma Gandhi, yakni swadesi.Swadesi merupakan Gerakan untuk menggunakan produk dalam negeri dan memboikot produk asing.
Dengan gerakan ini, India bisa melawan kolonialisme Eropa bukan dengan senjata Meriam melainkan dengan alat pintal kapas yang membuat masyarakat setempat mampu memproduksi pakaian sendiri dengan sumber daya yang ada. Hal tersebut dapat mengusir penjajah secara perlahan.
“Gerakan swadesi jika diterapkan di Indonesia akan menjadi implementasi dari ajaran Bung Karno yakni kedaulatan sandang”, tuturnya.
Materi kedua disampaikan oleh Dina Faisal selakum ketua Yayasan Andi dan Dina. Dina menyampaikan bahwa di Gujarat, pemberdayaan masyarakat setempat khususnya ibu-ibu untuk memintal benang dengan teknologi tepat guna, telah membuat pasokan kapas untuk kebutuhan dalam negeri bisa bertahan selama lima puluh tahun.
Kondisi di dalam negeri kita, para pemintal kapas dan penenun kain masih di bawah bayang-bayang perbudakan karena upah yang diterima tidak sebanding dengan pekerjaan keras yang dilakukan.
Dengan kegiatan pertukaran budaya di India, diharapkan dapat mengadopsi produksi produk katun sendiri untuk kebutuhan dalam negeri dengan teknologi tepat guna.
Selain itu, di Lombok, Dina menyampaikan bahwa di sana Ia mengembangkan sekolah dengan kurikulum berbasis kewirausahaan dengan luaran berupa sumber daya manusia siap berwirausaha. Bangunan sekolah tersebut sama sekali tidak menggunakan logam, keseluruhan dibuat dengan kayu dan bahan-bahan alam lainnya.
“Belajar dari gempa di Lombok beberapa waktu yang lalu, bangunan yang masih tegak berdiri adalah bangunan tradisional yang sebagian besar bahannya dari kayu,” ungkapnya.
Setelah sesi pemaparan, dilanjutkan dengan pengenalan Patria Wastra oleh Gading Ma dan Arini Kumalasari. Patria Wastra merupakan gerakan berkain dalam keseharian yang dikampanyekan oleh beberapa pemuda di Blitar.
Gading dan Arini juga menjelaskan tentang perkembangan batik di Blitar. Yang menjadi sorotan adalah afkomstig uit batik yang ada di Belanda. Di Museum Leiden dijelaskan bahwa berasal dari Blitar. Oleh beberapa tokoh di Blitar, motif pada batik tersebut diadaptasi menjadi “batik tutur”.
Andi dan Dina juga membawa kain tenun songket dari Lombok. Kain tenun tersebut dibuat pada serratus persen katun. Warna dalam kain tersebut di antaranya biru dari hasil pencelupan tanaman Indigofera, kuning dari bunga marigold, dan merah bata dari kulit akar mangrove.
Kegiatan dilanjutkan dengan berkeliling area kedai melihat tanaman kapas yang ditanam di sekitar kedai kopi. Di kedai juga ditampilkan mengenai kapas dari biji, bibit, produk, maupun hasi pengolahan produk berupa rajutan. Para peserta juga dijamu dengan aneka minuman herbal dan kudapan tradisional dengan kemasan bukan plastik.Para peserta yang hadir tampak antusias.
Beberapa tampak memberi tanggapan dan tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul dua siang. Salah satu peserta, Radie Unique, seorang seniman, sangat setuju dengan gerakan penanaman pohon kapas untuk memulihkan kedaulatan sandang saat ini.
“Selain melestarikan alam, juga membantu kegiatan perekonomian masyarakat dengan pengolahan kapas,” imbuhnya. Kegiatan diakhiri dengan pembagian bibit kapas untuk ditanam di rumah peserta masing-masing. (*)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila