BLITAR – Penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak kembali menjadi perhatian serius bagi dinas terkait.
Vaksinasi PMK akan dilanjutkan pada tahun ini sebagai langkah antisipatif. Hal ini menyusul potensi penularan yang tinggi, terutama dari lalu lintas hewan ternak di Pasar Hewan Dimoro.
“Kami akan melanjutkan pemberian vaksin PMK untuk hewan ternak, terutama sapi. Saat ini, kami tengah mempersiapkan sekitar 3.000 dosis vaksin,” ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar, Dewi Masitoh, Senin (30/12).
Menurut dia, lalu lintas ternak dari luar kota menjadi perhatian utama. Dalam sidak terbaru, DKPP menemukan tiga sapi di Pasar Dimoro terinfeksi PMK, sementara satu sapi lainnya terkena lumpy skin disease (LSD).
Untuk itu, pihaknya akan memperketat pengawasan dan memastikan vaksinasi dilakukan setiap enam bulan.
“Mayoritas sapi di Kota Blitar sudah mendapatkan vaksin dosis pertama dan kedua. Namun, vaksinasi ini perlu berkelanjutan agar perlindungan tetap optimal,” jelasnya.
DKPP juga mencatat delapan kasus PMK sepanjang Desember 2024, sebagian besar ditemukan di Kelurahan Pakunden dan Sentul.
Dari delapan kasus tersebut, satu sapi mati karena keterlambatan pengobatan. Sapi lainnya sedang dalam perawatan, dan beberapa telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
“Kami terus mengingatkan peternak untuk menjaga kebersihan kandang, minimal satu kali sehari, apalagi saat kondisi musim hujan seperti sekarang ini. Musim seperti ini rawan memicu berbagai penyakit ternak,” tandasnya.
DKPP juga mengimbau peternak segera melapor jika hewan ternaknya menunjukkan gejala penyakit.
Selain PMK, vaksinasi LSD juga akan dilakukan sebagai langkah pencegahan tambahan. Pihaknya berharap langkah ini mampu menjaga kesehatan hewan ternak di Kota Blitar dan menekan risiko terjadinya penularan penyakit. (ham/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila