BLITAR - Meski belum terlaksana di Kota Blitar, sebagian orang tua (ortu) menyambut positif adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bagi ortu, MBG bakal membawa dampak positif bagi tumbuh kembang anak-anak. Dengan jatah Rp 10 ribu per porsi, ortu berharap menu makan bergizi benar-benar diwujudkan.
Pemerintah telah melaksanakan program MBG mulai Senin (6/1) lalu. Namun, belum semua daerah di Indonesia bisa melaksanakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto dan wakilnya,Gibran Rakabuming Raka itu. Salah satunya adalah Kota Blitar yang kini masih menunggu kejelasan petunjuk teknis (juknis) dari pusat.
Lantas, bagaimana respons masyarakat khususnya para ortu atau wali murid terkait penerapan MBG? Hasilnya, rata-rata para ortu setuju dengan program MBG karena bisa meningkatkan asupan gizi untuk tumbuh kembang anak-anak.
“Ini sangat membantu agar anak-anak tidak sembarangan jajan di luar. Gizinya juga terjamin. Di rumah dapat, di sekolah juga dapat,” kata Nuramadanita, salah satu ortu warga Kelurahan/Kecamatan Sananwetan ini.
Ibu dua anak ini belum begitu detail memahami informasi tentang program MBG. Termasuk menu makanan yang akan disajikan untuk anak-anak dengan jatah Rp 10 ribu per porsinya.
”Mudah-mudahan dengan bujet Rp 10 ribu itu gizinya benar-benar seimbang. Sebab dengan nilai Rp 10 ribu itu, menu bergizi yang didapat, bagi saya kurang,” ungkapnya.
Minimal, lanjut dia, jatah untuk makan dengan menu bergizi yakni berkisar Rp 13-15 ribu. Isi menunya terdiri dari nasi, telur, sayuran, dan ayam goreng. “Jadi, proteinnya ada, karbohidratnya juga ada. Semua tercukupi,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Rita Febriana yang memiliki putri kelas VI SD. Sebagai wali murid, dia menyambut dengan antusias program tersebut. Harapannya, program MBG bisa segera dilaksanakan. “Semoga implementasi program ini membawa pengaruh yang baik dari segala aspek, khususnya bagi siswa dan masyarakat pada umumnya,” harapnya.
Meski dengan anggaran sebatas Rp 10 ribu per hari, menu makan gratis harus tetap mangandung gizi 4 sehat 5 sempurna, seperti ada tahu-tempe, telur, ayam, dan sebagainya.
Dengan begitu, gizi anak bisa terpenuhi dan kesehatan anak semakin meningkat. “Ya kalau dengan nominal segitu cukup berat. Karena tidak semua vendor katering nanti bisa menerima,” ungkapnya.
Yang terpenting, menurut warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan ini, program MBG ini wajib dijalankan secara transparan. Sebab, program ini secara otomatis melibatkan sejumlah pelaku usaha makanan dan minuman atau katering.
“Dengan transparan, kami dari wali murid akan turut mengawasi, karena program ini dijalankan dari uang pajak rakyat dan kembali untuk rakyat,” pungkasnya. (*/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah