BLITAR — Teka-teki tingginya kasus kematian sapi di Desa Serang, Kecamatan Pangggungrejo, Kabupaten Blitar terungkap. Selain penyakit mulut dan kuku (PMK), ada indikasi parasit darah yang membuat ternak bertumbangan.
Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, Nanang Miftahudin mengatakan, investigasi yang dilakukan bersama Balai Besar Veteriner (BBvet) Wates sudah diketahui.
Dari hasil analisis sampel di Desa Serang, sapi tidak hanya terpapar PMK, tapi juga ada serangan parasit darah. “Jadi, ada serangan sekuder berupa parasit darah. Ini menjadi salah satu indikasi tingginya kematian ternak di Desa Serang,” katanya, Senin (13/1/2025).
Ada sekitar 15 ternak yang menjadi objek observasi tim investigasi. Dari total sampel darah yang diambil, pada enam sampel terdapat parasit darah yang notabene menyerang sel darah merah dan sel darah putih.
Akibatnya, kondisi kesehatan ternak terus mengalami penurunan dan berakhir pada kematian.
Nanang menyebut ada sekitar 50 kasus PMK di Desa Serang. Dari jumlah tersebut, setidaknya ada 25 ekor sapi mati.
“Tingginya mortalitas atau tingkat kematian ternak ini sangat relevan jika ada serangan sekunder oleh parasit darah. Sebab, mortalitas kasus PMK selama ini sangat rendah,” terangnya.
Menurutnya, para peternak tidak perlu panik. Sebab, parasit tersebut mudah ditangani meskipun menular. Misalnya, dengan penyemprotan insektisida dan penerapan biosecurity yang ketat.
“Parasit ini biasanya menular saat terbawa oleh vektor atau caplak. Jadi, pengendaliannya cukup mudah dengan melakukan pembersihan dan penyemprotan insektisida,” ujarnya.
Nanang menyebut, kasus serangan sekunder ini kemungkinan besar tidak terjadi di wilayah lain. Pasalnya selama ini kasus yang paling banyak kematian hanya terjadi di Desa Serang.
Karena itu, pihaknya melakukan investigasi hanya di wilayah tersebut. Hingga pekan kedua Januari, tren peningkatan kasus tidak begitu signifikan, serta tingkat kematian ternak juga tidak bertambah signifikan.
Menurut Nanang, persoalan PMK yang saat ini kembali merebak didominasi oleh ternak-ternak baru yang belum tervaksin. Ternak yang sudah pernah mendapatkan vaksin PMK relatif sembuh setelah mendapatkan penanganan.
“Nah, persoalannya sekarang belum ada dukungan atau bantuan pemerintah terkait vaksin PMK. Jadi, peternak harus vaksinasi mandiri,” tandasnya. (hai/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah