Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ketika Pasar Daerah di Blitar Sepi Pembeli, Pemda Wajib Lakukan Hal Ini

Agus Muhaimin • Senin, 13 Januari 2025 | 19:00 WIB
LENGANG: Pasar Kanigoro ramai saat subuh, tapi sepi pada siang hari.
LENGANG: Pasar Kanigoro ramai saat subuh, tapi sepi pada siang hari.

 

 

BLITAR — Tantangan besar dihadapi pemerintah untuk mengoptimalkan fungsi pasar daerah. Puluhan miliar anggaran sudah dialokasikan untuk menyediakan sarana perdagangan ini.

Di lain sisi, keberadaan pasar daerah juga diharapkan menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD).

Pantauan koran ini, Pasar Kanigoro yang diresmikan akhir 2019 silam mulai kehilangan kemegahannya. Rumput liar mulai tumbuh subur di halaman.

Kios-kios yang ada di bagian depan juga tutup tak ada akivitias siang kemarin. Kolaborasi antara pasar tradisional dan pusat kuliner dibutuhkan untuk menjawab tantangan tersebut.

Tren aktivitas perdagangan sudah banyak berubah. Saat ini tidak harus melibatkan pertemuan antara penjual dan pembeli secara langsung. Interaksi jual beli melalui daring sudah lumrah terjadi.

Tidak hanya untuk kebutuhan sekunder, tapi juga kebutuhan primer seperti pangan dan sandang. Akibatnya, lapak dan kios di pasar sepi pengunjung.

“Konsep pasar daerah memang harus berubah. Sekarang banyak pedagang pilih tutup karena pengunjung sepi,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Blitar, Darmadi, Senin (13/1/2025). 

Di Pasar Kanigoro, aktivitas perdagangan paling ramai saat pagi. Aktivitas itu didominasi jual beli kebutuhan pokok. Beranjak siang, mayoritas pedagang memilih menutup kios karena jarang pengunjung.

“Pasar tradisional sebenarnya masih sangat dibutuhkan, meskipun banyak aktivitas perdagangan yang kini dilakukan secara online. Hanya saja, harus ada formula untuk kembali meramaikan pasar agar tidak hanya ramai saat subuh saja,” katanya.

Menurut Darmadi, pendekatan yang cukup relevan adalah kolaborasi antara pasar tradisional dan pusat kuliner. Di beberapa titik pasar daerah, kedua jenis segmen ini mampu menghidupkan suasana pasar.

Karena itu, pihaknya akan mengadopsi di beberapa pasar daerah lain yang kini sepi.

“Kami sangat optimistis kolaborasi antara pusat kuliner dan pasar tradisional ini akan membuat pasar daerah kembali ramai pengunjung. Pasar daerah harus ada pusat kuliner agar ramai,” terangnya.

Misi pemerintah tidak hanya memberikan layanan perdagangan kepada masyarakat. Pasar juga menjadi sumber PAD melalui retribusi pasar. Semakin tinggi aktivitas pasar, semakin besar pula potensi pendapatan retribusi pasar.

Pasar Baca Juga: Capaian Retribusi Pasar Kabupaten Blitar Rendah, ASN Diwajibkan Belanja di Pasar untuk Kejar Target

“Tahun lalu, target retribusi Rp 6 miliar hanya tercapai sekitar 60 persen. Tahun ini, ada rasionalisasi proyeksi pendapatan dari retribusi sehingga targetnya sedikit diturunkan,” katanya.

Darmadi tampak optimistis target retribusi pasar sebesar Rp 5,3 miliar tahun ini bisa terealisasi. Pasalnya, ada beberpa pasar daerah yang kini sudah memiliki wajah baru dan mulai menjadi jujukan perdagangan masyarakat. (hai/c1/ynu)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Kabupaten Blitar #pendapatan asli daerah #Disperindag kabupaten blitar #pasar kanigoro #Pemkab Blitar