BLITAR - Pemindahan makam di Desa Siraman, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar imbas proyek strategis nasional (PSN) sempat mengalami kendala. Bukan kendala teknis, melainkan nonteknis, yakni hal-hal mistis atau di luar nalar.
Hal itu diungkapkan Kabid Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blitar, Hakim Catur Yulianto. Dia mengungkapkan bahwa hal-hal mistis itu dialami oleh petugas kelompok masyarakat (pokmas) yang mengurus pemindahan makam.
“Mereka merasa merinding usai bertugas di makam, dan saat hendak pulang, mereka mendengar suara seseorang yang menangis,” ungkapnya, Rabu (15/1/2025).
Pokmas sempat ditanya oleh juru kunci terkait sosok yang menangis, tetapi hanya merespons bingung. Lalu, mereka menelusuri suara tangisan itu.
Namun ternyata adalah tanah kosong dan setelah digali ditemukan jenazah. Dari peristiwa itu, petugas yang harusnya pulang sebelum magrib, baru bisa kembali ke rumah pukul 20.00 WIB.
“Hal mistis itu terjadi karena banyak korban kecelakaan tanpa identitas yang dikubur di lokasi tersebut. Selain itu, banyak korban pembunuhan misterius yang dikubur pada TPU Desa Siraman. Terbukti ada 140 makam tanpa identitas,” ungkap Hakim.
Meskipun begitu, dari 486 makam yang direlokasi, proses pemindahan didahulukan yang ada ahli warisnya. Ternyata setelah diidentifikasi, ada 140 makam tanpa ahli waris dan tanpa identitas.
Pemindahan makam itu menjadi tanggung jawab pokmas untuk menguburnya sendiri. Hingga Selasa (14/1), sudah ada 210 makam yang berhasil dipindahkan. (jar/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah