BLITAR – Miswan Saputra, 30, seorang penjual es dawet khas Banjarnegara telah membawa cita rasa minuman tradisional ke Kota Blitar sejak tahun 2019.
Dia berjualan es dawet sebelum Covid-19 dan kini berkeliling untuk menjual es dawet ayu kepada warga Blitar yang terbuat dari beras dengan resep asli tanpa campuran tambahan.
“Kalau untuk bahan-bahannya ambil dari pasar di Blitar, sedangkan kalau gulanya kiriman dari Banjarnegara” ungkap Miswan, Rabu (22/1).
Keunikan es dawet yang dijual oleh Miswan dengan es dawet lain terletak pada bahan-bahan yang digunakan.
Dia memastikan bahwa bahan-bahan yang digunakan adalah bahan-bahan yang asli tanpa campuran bahan lain, dan warna hijau dawetnya juga berasal dari daun pandan.
Dia menjelaskan keunikan es dawet khas Banjarnegara dengan es dawet khas Blitar “Kebanyakan yang bilang dari gulanya, gulanya itu lebih kental” jelasnya.
Dia mulai berangkat keliling berjualan pada pukul 09.00 atau 09.30, dan ketika penjualannya lagi lancar biasanya pukul 14.00 sudah habis.
Namun, jika penjualannya kurang lancar ia bisa pulang Magrib.
Ketika keliling, Miswan biasanya mengubah rute dalam setiap harinya “Kalau sekarang (Rabu) ke daerah Talob, berarti Rabu depan ke daerah Talob” jelasnya.
Selain keliling, Miswan biasanya mangkal di lokasi yang strategis, seperti di depan stadion Soepriadi atau depan Masjid Ar-Rahman pada Sabtu dan Minggu.
Ketika hari-hari biasa, Miswan akan membawa dagangannya ke tempat tersebut ketika dagangannya masih sisa pada sore hari.
Keputusannya merantau ke Blitar dengan membawa es dawet khas Banjarnegara dilatarbelakangi oleh dua alasan. “Pertama, karena mencari rezeki. Kedua, melestarikan es dawet ayu khas Banjarnegara” ungkapnya.
Pembeli es dawet khas Banjarngara ini bervariasi, namun mayoritas pembelinya adalah orang dewasa, mulai bapak-bapak hinga ibu-ibu. Anak-anak remaja juga cukup sering membeli, namun tidak sebanyak orang dewasa.
Dia membandrol harga es dawetnya per cup/per porsi seharga Rp 5000. Dalam sehari, omzet yang dihasilkan mencapai Rp 250.000 hingga Rp 500.000 ketika penjualannya dalam keadaan ramai.
Dia juga menerima pesanan yang digunakan dalam acara-acara besar, seperti hajatan, dengan julah pesanan paling banyak 150 porsi. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah