BLITAR - Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar memiliki situs bersejarah yang diperkirakan berasal dari Kerajaan Tumapel atau Singhasari, yang bernama Situs Kekunaan Jimbe. Situs ini merupakan tempat penyimpanan senjata pusaka dan beberapa arca.
Di wilayah Blitar Raya, masih banyak situs bersejarah peninggalan zaman kerajaan yang masih bisa kita saksikan saat ini. Salah satunya adalah Situs Kekunaan Jimbe yang sangat kaya akan nilai sejarah.
Adanya situs bersejarah tersebut menandakan eksistensi kerajaan zaman dulu di kawasan Blitar Raya cukup besar hingga menjadi cikal bakal terbentuknya suatu desa.
Suasana sepi tampak menyelimuti kawasan Situs Kekunaan Jimbe. Saat Radar Blitar berkunjung ke lokasi bersejarah tersebut, salah seorang menghampiri dari dalam bangunan tua itu. Dia merupakan seorang juru pelihara situs dari Desa Jimbe. Yaitu, Puguh Santosa.
Terletak di Desa Jimbe, Situs Kekunaan Jimbe dikaitkan dengan masa berdirinya Kerajaan Tumapel maupun Majapahit. Dalam kitab Negarakertagama, pada 1283 Saka atau 1361 Masehi, kawasan Jimbe merupakan salah satu tempat yang dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk.
Dahulu, Raja Hayam Wuruk berangkat ke pendarmaan leluhurnya yang diperkirakan ada di Candi Simping, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan. Kemudian, Raja Hayam Wuruk menyempatkan diri mengunjugi kawasan Jimbe untuk menghibur atau menenteramkan diri.
“Ini tempat untuk menenangkan diri karena berduka,” ujar Puguh, sapaan akrabnya.
Puguh menceritakan, ada juga cerita Desa Jimbe bahwa dulu merupakan kawasan hutan belantara yang angker. Hingga akhirnya dibabat oleh seorang bernama Empu Supo Mandrangi. Empu ini dikenal sebagai seorang yang terkenal pada zaman Kerajaan Majapahit. “Jadi, Jimbe dulu adalah singgasananya Empu Supo, dan itulah awal mula terbentuknya Desa Jimbe,” ujar juru pelihara itu.
Empu Supo juga merupakan seorang pembuat pusaka yang terkenal, bahkan pusaka itu menjadi lambang kejayaan Kerajaan Majapahit bernama keris Sengkerat. Keris ini memiliki kekuatan yang luar biasa hingga menarik perhatian Adipati Blambangan dan kemudian dicuri.
Konon, dalam pencarian keris itu, Empu Supo melakukan perjalanan ke berbagai daerah seperti Palembang, Bali, Madura, bahkan sampai di Pulau Jawa, dan berhenti di kawasan hutan yang saat ini menjadi Desa Jimbe itu.
Penamaan Jimbe berasal salah satu keris buatan Empu Supo yang bernama keris Umyang Jimbe. Kata Jimbe berasal dari kata “Jim” atau “Jin” dan “Be” yang artinya minum. Jadi, Jimbe merupakan jin yang minum atau menyerap ilmu dari Empu Supo di tanah perdikan yang dibabat olehnya.
Kini, Situs Kekunaan Jimbe merupakan tempat penyimpanan keris dari Empu Supo dan beberapa arca. Situs ini masih sering dikunjugi wisatawan, baik lokal maupun luar daerah. “Masih digunakan sebagai tempat pemujaan,” kata Puguh. (*/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah