BLITAR - Produk bambu selama ini diketahui sangat terbatas. Namun di tangan Purwadi warga Desa Popoh, Kecamatan Selopuro, bambu bisa menjadi berbagai barang. Bahkan ada 8 produk yang telah diperoduksinya. Paling mahal replika kapal dengan harga Rp 2 juta.
Meskipun sudah mengetahui tentang ilmu pemasaran digital, pengusaha atau pengrajin bambu ini selalu haus ilmu baru. Bahkan saat ditemui Koran ini, Purwadi ini sedang mengikuti acara literasi pemasaran digital di Perpustakan Proklamator Bung Karno.
Purwadi menceritakan, bahwa usaha yang dikenal rosspring ini merupakan warisan dari sang ayah, sudah ada sejak 1999. Saat itu, produk yang dibuat masih monoton dan belum bisa berkembang. Lalu Purwadi mengambil alih dan menekuni usaha kerajinan bambu ini sejak 2022.
“Sejak saat itu saya konsisten menggeluti usaha ini agar bisa berkembang. Dulu saya cuma membantu dan sering ikut program-program pemerintah, belajar dari teman-teman sesama pengrajin. Belajar dan evaluasi untuk bisa berkembang,” ujarnya, Jumat (24/1/2025).
Saat kerajinan bambu ini dipegang ayahnya, hanya ada dua produk dan sebatas perkakas saja. Dengan kreatifitasnya, mulai 2022 memperbarui produknya. Dengan memadukan produk zaman dulu dengan yang terkini, seperti miniatur kapal.
Ada 8 produk kerajinan bambu yang telah dibuat oleh Purwadi sejauh ini. Di antaranya, ada miniatur kapal, rantang bambu, wakul, rak bumbu, rak bawang. Selain itu, juga ada kotak pensil, kotak tisu, hingga tas.
“Sebenarnya ada miniatur rumah joglo yang masih belum dirilis, karena masih eksperimen lebih lanjut. Nanti akan dilakukan finalisasi dan dipasarkan. Jad sekarang masih ada 8 produk,” ungkapnya.
Purwadi memang selalu melakukan eksperimen. Bahkan dia sengaja membuat produk seperti tempat pensil dan replika kapal untuk edukasi anak-anak. Dia juga sempat mengajari anak-anak membuat lampion dari bambu.
Untuk pembelajaran, dia membeli produk kerajinan dari orang lain. Lalu dibongkar untuk dipelajari dengan otodidak hingga dipasang lagi. Sempat belajar dengan youtube, namun hanya sebatas alur pembuatannya saja. Namun untuk detailnya, lebih memilih memakai produk asli, dibongkar dan dicari bahan baru hingga dibuat lebih bagus.
Semua eksperimen itu dilakukan karena permintaan pelanggan yang bervariasi. Maka dari itu, Purwadi membuat karya sesuai permintaan dari pembeli. Sama halnya, dengan harga-harga dari produk rosspring ini yang juga berbeda-beda tiap item.
Purwadi menjelaskan untuk harga produk rosspring miliknya mulai Rp 10 ribu sampai Rp 2 juta. Untuk wakul bambu ada 3 jenis, yakni ukuran hajatan, setengah kilo, tiga perempat, satu kilo, dan lima kilo. Wakul hajatan harganya dipatok Rp 25 ribu ukuran standar. Untuk wakul nasi dibanderol harga Rp 200 ribu per pcs.
“Produk paling mahal sementara masih miniatur kapal Rp2 juta itu sudah tiga dimensi. Dengan ukuran panjang satu meter dan model Dewa Ruchi. Pembuatannya hampir sepuluh hari. Tapi nggak fokus, soalnya ada kerjaan lain,” tutur Purwadi.
Bapak dua anak ini mengungkapkan, waktu pembuatan tiap produk rosspring ini bervariasi tergantung tingkat kerumitan. Kalau miniatur kapal paling cepat sehari satu produk untuk ukuran kecil. Kalau wakul paling cepat sehari, bisa buat tujuh produk.
Purwadi mengungkapkan, selama ini mengalami kendala dalam mencari pekerja yang sesuai kriterianya. Sebab saat ini, masih tidak banyak seseorang yang bisa bekerja dengannya sefrekuensi.
Dia tentu tidak sendiri membuat kerajinan itu. Karena memiliki 3 rekan kerja, yang juga tetangganya sendiri. Karena peminat produknya banyak, tidak hanya orang Blitar saja. Untuk wakul Bambu peminatnya dari Kalimantan, Sidoarjo, serta Semarang. Sedangkan miniatur kapal yang banyak peminat daerah Lampung, Kalimantan, hingga Sulawesi.
“Saya menggunakan pemasaran digital. Menurut saya lebih cepat, simpel, praktis. Untuk pemasaran offline sementara ini kerjasama dengan catering, dropshipper, reseller. Ada lebih 100 produk yang terjual setiap bulan, dengan omzet kotor Rp 12 juta per bulan,” tuturnya. (*/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah