Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kecamatan Kepanjenkidul di Kota Blitar Jadi Zona Merah PMK, DKPP: Semakin Ganas dan Virus Lebih Agresif  

Muhamad Ilham Baha’udin • Rabu, 29 Januari 2025 | 17:00 WIB

 

 

HARUS SIGAP: Puluhan ekor hewan ternak di Kota Blitar terinveksi dan lima di antaranya dilaporkan mati akibat PMK.
HARUS SIGAP: Puluhan ekor hewan ternak di Kota Blitar terinveksi dan lima di antaranya dilaporkan mati akibat PMK.

BLITAR– Hingga kini, penyebaran kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kota Blitar tercatat semakin mengganas.

Puluhan ekor hewan ternak di Kota Blitar terinveksi virus PMK dan lima di antaranya dilaporkan mati karena diduga terlambatnya penanganan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar, Dewi Masitoh, mengungkapkan bahwa PMK di tahun ini memang lebih ganas.

Sebab, kata dia, ada beberapa gejala tambahan yang membuat virus PMK ini lebih agresif dibanding kasus di tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dulu tingkat mortalitasnya rendah, sekarang lebih tinggi. Ada gejala tambahan seperti pilek yang membuat virusnya lebih ganas,” ungkapnya kepada Radar Blitar, Rabu (28/1).

Berdasarkan data yang dihimpun DKPP, zona merah penyebaran kasus PMK adalah Kecamatan Kepanjenkidul.

Dengan rincian berdasarkan kelurahan, yakni Kelurahan Tlumpu sebanyak 4 ekor, Blitar 3 ekor, Pakunden 1 ekor, Tanjungsari 6 ekor, Gedog 10 ekor, Bendogerit 3 ekor, Ngadirejo 2 ekor, Tanggung 18 ekor, Sentul 10 ekor. Total keseluruhan kasus sebanyak 57.

“Untuk Kelurahan Tlumpu, Ngadirejo, dan Tanggung rata-rata sudah. Kami juga terus memantau area yang dekat dengan lokasi terindikasi adanya PMK ini,” tandasnya.

Menurut dia, vaksinasi sapi akan diprioritaskan di tujuh kelurahan di luar lokasi temuan kasus PMK.

Dia menekankan bahwa vaksin hanya dapat diberikan pada sapi yang benar-benar sehat untuk menghindari risiko fatal.

“Vaksin bisa dilakukan dengan jarak 3 kilometer (km) dari lokasi kasus. Jadi, kami fokus pada daerah yang belum terdampak langsung, tetapi dekat dengan lokasi kejadian,” bebernya.

Sebelumnya, meski kasus PMK terus meningkat, Pemkot Blitar memutuskan untuk tidak menutup pasar ternak.

Sebagai gantinya, pengawasan lalu lintas ternak dari luar kota, terutama yang akan dijual di Pasar Hewan Dimoro, diperketat untuk mencegah penyebaran lebih luas.

“Kami mohon kerja sama pedagang dan pengelola pasar untuk menjalankan SOP yang telah ditetapkan. Dengan pengendalian lalu lintas yang ketat, kami harap penyebaran bisa diminimalkan,” tegasnya.

Dia juga mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan jika menemukan gejala PMK pada ternak mereka.

Langkah cepat pelaporan diharapkan dapat menekan angka kematian ternak akibat virus ini. (ham/c1/ady)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#pmk #kematian #Kota Blitar #ternak