BLITAR - Dari limbah bambu yang menumpuk, Anshori Baidhowi, warga Desa Tawangrejo, Kecamatan Wonodadi, ini berhasil mengolahnya menjadi bedug. Pria lulusan pesantren itu selalu menekankan sikap inovatif dalam hidupnya. Terbukti, produk unggulannya itu berhasil terbang sampai ke Merauke.
Suara mesin bubut terdengar menderu-deru. Tampak beberapa pekerja sibuk menggarap pesanan bedug yang berbahan dasar dari bambu di rumah produksi yang bernama Pinang Arum di Desa Tawangrejo, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar.
Tak berselang lama, datang seorang pria dari dalam rumah menghampiri. Kedatangan Jawa Pos Radar Blitar disambut hangat lalu bersalaman. Pria itu adalah Anshori Baidowi, pemilik usaha produksi bedug tersebut.
Anshori mengungkapkan, usaha pembuatan bedug berbahan limbah bambu itu berawal dari keprihatinan. Saat itu dia melihat populasi pohon mahoni yang ada di Blitar semakin sedikit karena untuk produksi kendang. Dia langsung memutar otak untuk mencari alternatif bahan pembuatan bedug selain dari kayu mahoni.
Munculah ide untuk memanfaatkan bambu sebagai bahan utama produksi bedug. Sebab, sebelumnya Anshori juga memproduksi tusuk sate dan sumpit berbahan dari bambu. ”Hasil dari produksi tusuk sate dan sumpit itu menghasilkan limbah. Nah, limbah itulah yang saya manfaatkan untuk membuat bedug,” ungkap Anshori ditemui pada Senin (3/1/2025).
Usaha memproduksi bedug itu dia mulai pada 2013 lalu. Hal itu dilakukan dalam rangka mengembangkan usahanya. Tidak hanya fokus memproduksi tusuk sate dan sumpit, tetapi juga bedug. Apalagi, bedug yang diproduksi beda dari yang lain karena berbahan dari limbah bambu.
Selama ini, jelas dia, limbah bambu menumpuk sehingga muncul ide untuk dimanfaatkan sebagai bahan utama bedug. ”Bisa dibilang ini sebuah eksperimen ya. Saya mencoba untuk mengolahnya menjadi bedug. Syukur-syukur bisa laku dipasaran,” ujar pria alumni pondok pesantren Sidoresmo Surabaya ini.
Alhasil, dari ketekunan dan belajar mengolah limbah bambu yang menumpuk benar-benar bisa menghasilkan bedug bernilai ekonomi tinggi. Pria yang tercatat sebagai anggota aktif DPRD Kabupaten Blitar ini berupaya menciptakan bedug yang berbeda dari yang lain. Terlebih, bedug masih menjadi produk yang terus laku dipasaran.
Meski di era serba teknologi, bedug masih menjadi barang berharga untuk masjid ataupun musala. Bedug hingga kini masih menjadi media peringatan waktu salat telah masuk. “Bedug ini sudah menjadi budaya di Indonesia. Otomatis tetap menjadi kebutuhan di masjid ataupun musala,” ungkapnya.
Dari situlah ia terus termotivasi memproduksi bedug yang bahan dasar bambu. Ditambah dengan bahannya yang cukup mudah didapat dan ramah lingkungan. “Jadi ada dua pilihan kalau mau membuat bedug. Dari kayu besar atau dari blabak yang disambung-sambung. Namun semua itu pasti endingnya menebang kayu atau merusak alam,” terangnya.
Nah untuk proses pembuatannya, pertama, limbah bambu digiling hingga halus kemudian dicampur dengan lem. Setelah adonan dicetak dalam wadah khusus lalu dipres menggunakan mesin hidrolik dan dioven.
Kini produk bedug buatannya sudah merambah ke sejumlah daerah di Indonesia. Paling jauh dikirim ke Merauke. Bedug dari limbah bambu ini dijamin lebih awet dari pada bedug berbahan kayu pada umumnya.
Dalam memproduksi bedug, Anshori dibantu oleh sedikitnya 30 orang dari warga setempat. ”Alhamdulillah, lewat produksi bedug ini, saya bisa memberikan lapangan kerja bagi warga sekitar tempat tinggal,” ujarnya. (*/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah