PONGGOK, Radar Blitar - Di wilayah Kabupaten Blitar bagian barat, ada sebuah bangunan tua terbengkalai yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Bangunan bersejarah tersebut tepatnya berada di Desa Gembongan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Bangunan tua ini adalah bekas pabrik agave dan tapioka.
Gedung usang yang berukuran separo lapangan sepak bola itu berdinding beton setebal setengah meter yang kondisinya sudah mengelupas, berjamur, dan dipenuni akar tanaman. Namun, konstruksi bangunan itu masih berdiri kokoh hingga saat ini.
Menurut pegiat sejarah asal Kelurahan Kauman, Kecamatan Srengat, Insanu Widodo, bangunan tua yang ada di Desa Gembongan itu merupakan bekas pabrik agave dan tapioka peninggalan masa kolonial Belanda dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.
Selain bangunan gedung, juga ada bangunan berupa cerobong asap yang sudah berdiri lebih dari 100 tahun lamanya. “Dulu pabrik ini untuk pembuatan tapioka dan karung goni dari serat agave,”ujarnya, Jumat (7/2/2025).
Dia melanjutkan, pabrik tersebut dikelola oleh perusahaan swasta Belanda, Handels Vereeniging Amsterdam (HVA). Dalam catatan sejarah, korporasi itu didirikan karena terkurasnya uang kas Belanda untuk membiayai perang melawan Pangeran Diponegoro. Pada peristiwa Perang Jawa yang terjadi pada 1825 hingga 1830 itu, biaya selangit yang digelontorkan nyaris membuat Belanda bangkrut.
Pabrik tersebut dulunya memproduksi karung goni dan tapioka dan berhasil merajai ekspor dunia. Saat itu, produk dari Desa Gembongan diekspor ke berbagai negara seperti Inggris, Belgia, Jerman, dan Amerika.
Hal itu dikarenakan pada masa 1900-an karung goni dan tapioka ini berperan penting dalam aktivitas perdagangan dunia. Pembuatan karung goni berasal dari daun agave yang diambil seratnya dengan cara dijemur, disisir, kemudian diikat.
Sementara itu, jantung atau buah tanaman bernama latin Sisalana itu digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan tequila. Lalu, tepung tapioka dibuat dari bahan dasar singkong. “Dulu perkebunannya agave dan singkong di lereng Gunung Kelud,” kata pria ramah ini.
Namun, pabrik yang pernah memiliki nama Bendoredjo itu akhirnya menghentikan produksi ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Pabrik seluas 2 hektare yang sudah terbengkalai akhirnya benar-benar rata dengan tanah memasuki masa Agresi Militer Belanda pada 1947-1949.
Di Desa Gembongan, penginggalan bekas pabrik yang masih bisa dilihat adalah gedung tua dan cerobong asap yang sudah tampak miring. Tidak dapat dipungkiri, bangunan tersebut membuktikan bahwa produk asal Indonesia ini pernah merajai ekspor dunia. “Hal ini tentunya menjadi bukti kalau dulu Indonesia merajai ekspor dunia,” pungkasnya.(mg3/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah