Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ada Momen Bersejarah pada 14 Februari 1945, Ini Alasan Kenapa Anak Muda Harus Memperingatinya

M. Subchan Abdullah • Jumat, 14 Februari 2025 | 21:30 WIB

 

HEROIK: Sejumlah anak muda memperagakan perjuangan tentara PETA pada 14 Februari 1945 silam.
HEROIK: Sejumlah anak muda memperagakan perjuangan tentara PETA pada 14 Februari 1945 silam.

 

BLITAR - Monumen Pembela Tanah Air atau akrab sebagai PETA memiliki arti sendiri di hati masyarakat Blitar Raya. Tak hanya sebagai pengingat kegigihan tujuh pejuang melawan pemerintahan Jepang, tapi semangat juang ini menjadi cerita yang akan terus disampaikan dari generasi ke generasi di Blitar Raya.

Wali Kota Blitar Santoso mengakui keberadaan Monumen PETA yang kemudian berkembang dengan dibuatnya kompleks Museum PETA. Lalu, muncul drama kolosal PETA untuk mengingatkan kepada generasi muda tentang begitu monumentalnya keberadaan pejuang PETA di Blitar. “Jika di tempat lain anak-anak remaja dan muda-mudi menggelar pesta Valentine, maka di Blitar setiap 14 Februari merupakan hari peringatan perjuangan PETA,” jelasnya.

Meskipun Monumen PETA baru didirikan pada 1993 dan diresmikan Presiden Suharto pada 1995, tak terasa masyarakat Blitar telah 80 tahun selalu memperingati tanggal 14 Februari lewat berbagai kegiatan. “Dalam beberapa tahun terakhir, secara kontinu digelar pementasan drama kolosal PETA yang dibawakan oleh ratusan pelajar, yang setiap tahun selalu ada tema baru,” ujarnya.

Bahkan untuk mengingat perlawanan para pejuang PETA ini, pemimpin tentara PETA yakni Sudanco Soeprijadi dijadikan nama jalan dan stadion. Ini agar generasi muda Blitar tak pernah melupakan Sejarah bahwa 6 bulan sebelum Proklamasi dibacakan di Jakarta, sudah disulut lewat perlawanan yang dilakukan oleh para tentara muda di Blitar.

“Nama Sudanco Soeprijadi akan terus dikenang di Blitar. Walaupun orang di luar Blitar jarang mengingat mereka, tapi di Blitar, motivasi, ide, dan nilai-nilai perjuangan mereka sangat bermakna,” ujarnya.

Dia berharap Museum PETA akan terus dikembangkan dan dijaga. Peringatan lewat drama kolosal pemberontakan PETA ini juga akan terus digelar dan menjadi tradisi perjuangan masyarakat Kota Blitar. Tak hanya itu, pemerintah bertekad menjadikan kisah inspirasi perjuangan tentara PETA sebagai bagian dari sejarah keberanian orang Blitar.

“Makanya kami ingin Monumen dan Museum PETA terus dikembangkan menjadi objek wisata sejarah, yang akan saling melengkapi dengan Makam Bung Karno (MBK),” ungkapnya. (sub/c1/ady)    

 

Jalaludin Alham, sepupu Renville Antonio yang menceritakan dirinya pernah mendengar perkataan Renville yang akan meninggal muda.
Jalaludin Alham, sepupu Renville Antonio yang menceritakan dirinya pernah mendengar perkataan Renville yang akan meninggal muda.
Editor : M. Subchan Abdullah
#sejarah #anak muda #wali kota blitar #14 Februari #monumen PETA #pemuda #Kota Blitar