BLITAR - Sosok Shodanco Parto Hardjono yang mengambil peran mengibarkan bendera merah putih, saat aksi heroik perjuangan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) Blitar, dimakamkan di Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari. Perlawanan terhadap pendudukan Jepang di Kota Blitar pada 14 Februari 1945 menjadi inspirasi banyak pihak.
Di antaranya, para pegiat sejarah Blitar yang berziarah ke makam Shodanco Parto Hardjono untuk mengenang sejarah tepat dalam peringatan 80 Tahun Perjuangan PETA Blitar pada Jumat (14/2).
Lokasi makam Shodanco Parto Hardjono berada di makam umum Desa Sukosewu. Usai ziarah, dari hasil obrolan ringan para pegiat sejarah Blitar ini, muncul ide untuk mengangkat kembali sosok suami Soegmi ini di tengah masyarakat Desa Sukosewu dan sekitarnya.
Misalnya melalui kelompok sadar wisata (pokdarwis) maupun karang taruna di Desa Sukosewu. Menggelar kegiatan-kegiatan bertema kepahlawanan yang mengangkat sosok Shodanco Parto Hardjono yang wafat pada Sabtu Pahing, 10 September 1994, dalam usia 80 tahun. “Sosok Mbah Parto Hardjono memiliki peran penting dalam perjuangan PETA Blitar,” ungkap Yoni Andika, pegiat sejarah asal Binangun ini, Sabtu (15/2/2025).
Seperti diketahui, Shodanco Parto Hardjono adalah sosok yang mengibarkan bendera merah putih pada 14 Februari 1945 di seberang jalan Markas PETA Blitar atau kini dikenal sebagai Monumen Potlot. Ketika perlawanan menghadapi pendudukan Jepang di Kota Blitar meletus, usai mengibarkan bendera merah putih, dia bergabung dalam rombongan timur dengan titik akhir perjuangan di Desa Sumberagung, Kecamatan Gandusari.
Selain ziarah para pegiat sejarah Blitar, wilayah Kecamatan Gandusari juga menjadi bagian rute napak tilas Shondanco Soeprijadi dari Monumen PETA di Kota Blitar menuju kawasan Gunung Gedang di Desa Gadungan. Sehari sebelumnya, Pokdarwis Desa Sukosewu juga menggelar agenda untuk memperingati 80 Tahun Perjuangan PETA Blitar melalui ziarah ke makam Shodanco Parto Hardjono. (ynu/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah