BLITAR – Ruas jalan yang menghubungkan dua desa, antara Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, dengan Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat di Kabupaten Blitar memiliki nama salah satu tempat peninggalan dari masa kolonial Belanda. Meski tempat itu sudah tidak berfungsi lagi, namun namanya masih melekat dalam ingatan masyarakat, yakni Jalan Stasiun.
Menurut informasi masyarakat, nama Jalan Stasiun diambil dari keberadaan Stasiun Bendo (BDO), sebuah stasiun yang dulunya beroperasi di wilayah Desa Ngaglik. Namun, yang masih membekas hingga saat ini adalah namanya yang digunakan sebagai nama jalan.
Menurut Sekretaris Desa Bendo, Jiwandono Kunto Wijaksono, Stasiun Bendo kini sudah tidak ada lagi bangunannya. Pasalnya, bekas bangunan stasiun tersebut sering dijadikan maksiat oleh warga sekitar. Karena keresahan tersebut warga memutuskan untuk meratakan.
“Saya lupa pembongkarannya tahun berapa, tapi bekas stasiun itu dibongkar karena sering dijadikan mabuk-mabukan, judi, dan lainnya,” ujarnya.
Stasiun Bendo dulu digunakan oleh Belanda untuk mengangkut hasil susu, karena pada saat itu industri yang dijalankan adalah potensi susu perah. Hal ini, dibuktikan adanya kawasan yang dulu merupakan loji atau perumahan yang digunakan oleh orang Belanda. Kawasan loji atau ngloji terletak di sebelah barat lapangan Desa Bendo, yang membentang sepanjang 500 meter. Dari berbagai literatur, Stasiun Bendo terakhir kali beroperasi pada 1980-an. (mg3/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah