Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Lansia di Blitar Tewas Usai Tertemper KA Gajayana. Berikut Kronologinya

Fajar Rahmad Ali Wardana • Rabu, 19 Februari 2025 | 03:30 WIB

 

MENGENASKAN: Proses evakuasi jenazah SW di kawasan Stasiun Pohgajih, Kecamatan Selorejo, pada Selasa (18/2).
MENGENASKAN: Proses evakuasi jenazah SW di kawasan Stasiun Pohgajih, Kecamatan Selorejo, pada Selasa (18/2).

 

BLITAR - Pria lanjut usia (lansia) ditemukan tewas setelah tertemper Kereta Api (KA) Gajayana di emplasemen Stasiun Pohgajih, Desa Pohgajih, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar pada Selasa (18/2/2025) pagi. Korban yang diketahui berinisial SW, 68, merupakan warga Desa Sukoanyar, Kecamatan Kesamben, ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sebelah utara jalur rel KA.

Kasi Humas Polres Blitar, Iptu Putut Siswahyuudi mengatakan, peristiwa tragis ini terjadi sekitar pukul 06.18 WIB. Petugas keamanan stasiun menerima laporan dari masinis KA Gajayana, bahwa ada seseorang tertemper kereta di perlintasan kilometer 86, emplasemen Stasiun Pohgajih, wesel 2.

Mendapati laporan tersebut, salah satu petugas bernama Tedy Pradana, 23, segera mencari titik kejadian. “Dia menemukan korban sudah dalam keadaan meninggal dunia. Saksi kemudian menghubungi warga sekitar dan melaporkan kejadian ini ke Polsek Selorejo,” ujar Putut.

Para petugas yang mendatangi lokasi kejadian, menunggu pihak kepolisian untuk dilakukan identifikasi. Ternyata korban merupakan warga Desa Sukoanyar, yang bekerja sebagai tukang kayu. Korban kemudian dievakuasi oleh petugas dan dibawa ke rumahnya yang tidak jauh dari lokasi kejadian.  

Sementara itu, hasil visum luar dari petugas medis Puskesmas Selorejo menunjukkan, korban mengalami luka parah di kepala, serta patah tulang di beberapa bagian tubuh. “Menurut keterangan pihak keluarga, korban mengalami gangguan pendengaran serta demensia (pikun), yang diduga menjadi faktor utama kecelakaan ini,” ungkapnya.

Keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak mengajukan tuntutan. Selain itu, keluarga juga menolak dilakukan autopsi terhadap jenazah korban. Maka dari itu, jenazah langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat.

Warga sekitar yang mengetahui kejadian ini mengaku kaget, karena korban kerap terlihat berjalan di sekitar jalur kereta api. Beberapa warga menyebut, korban sering tampak linglung saat berjalan, terutama di sekitar area stasiun.

“Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan anggota keluarga yang memiliki kondisi serupa, agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkas Putut. (jar/ynu)

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#lansia #Kabupaten Blitar #kereta api #kecelakaan #lanjut usia #ka gajayana