BLITAR - Drama kolosal PETA yang diselenggarakan pada 14 Februari lalu menjadi momen bersejarah sekaligus kenangan tak terlupakan bagi pemeran tokoh Soeprijadi. Yakni, Lizamul Firdaus Athoillah. Drama kolosal tersebut menjadi momen spesial terakhir di Kota Blitar sebelum pindah kerja di Palangkaraya sebagai aparatur sipil negara (ASN).
Drama kolosal PETA 2025 sungguh menjadi kenangan manis bagi masyarakat Bumi Bung Karno. Hal itu juga dirasakan oleh Lizamul Firdaus Athoillah, warga Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, yang saat itu berperan menjadi tokoh Soeprijadi pada drama kolosal andalan Kota Blitar ini. Keikutsertaannya itu merupakan pengalaman perdana.
Meski pertama kali, dia sukses tampil memukau di hadapan ratusan penonton. Hal itu menjadi kenangan manis yang tak terlupakan.
Firdaus menceritakan bahwa awal terlibat dalam drama kolosal itu datang dari tawaran Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Blitar, Edy Wasono. Kebetulan, dia tercatat sebagai tenaga honorer di disbudpar. Tawaran bermain di drama kolosal itu tentu mahal.
Tak sedikit orang ingin tampil pada agenda bergengsi tahunan itu. Drama kolosal ini akan menjadi kenang-kenangan dari kepala dinas sebelum berpindah tempat kerja di luar pulau.
“Ya, karena saya diterima calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Kementerian PUPR dan ditempatkan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Pak Kadisbudpar bilang sebelum meninggalkan Kota Blitar harus ada kenangan manis, kebetulan ada acara Drama Kolosal PETA,” ujar Firdaus yang ditemui kemarin (18/2).
Untuk bisa bermain di drama kolosal PETA, Firdaus harus melewati rangkaian casting terlebih dahulu. Setelah itu, dia juga berdiskusi dengan sutradara dan komposer terkait perannya di drama kolosal ini. Tak disangka, dia mendapat peran sebagai tokoh Soeprijadi.
Latihan pun dimulai sejak pertengahan Januari 2025. Hampir setiap akhir pekannya dihabiskan untuk mempelajari naskah drama kolosal PETA. Selain itu, dia juga menggali sejarah dari tentara PETA, terutama pada tokoh Soeprijadi. Bahkan, dia sempat bertanya ke sejarawan agar lebih mendalami sosok pejuang ikonik dari Kota Blitar ini.
“Memerankan tokoh Soeprijadi ini cukup berat, tanggung jawab berat, dan memegang nama pahlawan nasional bukan hal yang mudah. Tentu saya berusaha maksimal demi acara drama kolosal sukses dan syukurnya dapat tampil baik,” tutur pemuda 24 tahun ini.
Selama latihan hingga pentas di Taman Plaza Museum Peta tidak ada kendala. Meskipun begitu, Firdaus tetap demam panggung saat tampil. Sebab, ini merupakan yang perdana tampil di hadapan publik. Apalagi, dia bukan orang yang memiliki latar belakang seni peran atau teater.
Bahkan ketika casting hanya modal nekad dan ternyata dapat menghibur penonton drama kolosal. Meskipun begitu, Firdaus sudah tidak asing dengan acara ini karena dia pernah menjadi panitia yang bekerja di balik layar.
Firdaus tidak pernah membayangkan bisa ada di panggung seperti ini. Dia benar-benar belajar banyak dari drama kolosal PETA ini. Baginya, hal ini bukan hanya sekadar pertunjukan, melainkan juga perjalanan yang penuh makna. (*/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah