Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pengrajin Anyaman Bambu di Bitar Ini Tetap Bertahan Diera Modern, Kegigihan dan Ketekunan Jadi Kunci

Awaludin Lintang Mustari • Minggu, 23 Februari 2025 | 15:00 WIB
PENGRAJIN : Produksi anyaman bambu di Dusun Tumpuk, Purwokerto masih tetap eksis diera modern
PENGRAJIN : Produksi anyaman bambu di Dusun Tumpuk, Purwokerto masih tetap eksis diera modern

BLITAR - Di Dusun Tumpuk, Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, terdapat sebuah usaha kerajinan anyaman bambu yang telah bertahan dan berkembang selama puluhan tahun. Usaha ini dikelola oleh Diah Yulianti (56), seorang pengrajin yang telah menekuni keterampilan ini sejak duduk dibangku sekolah. Berawal dari memproduksi tompo (wadah tradisional), kini kerajinan tersebut meluas hingga mencakup berbagai jenis produk seperti tas, tempat tisu, tempat minuman, hingga souvenir.

"Usaha ini sudah ada sejak saya kelas 4 SD. Awalnya kami hanya membuat tompo, tetapi seiring waktu kami mulai memproduksi berbagai jenis anyaman bambu lainnya, termasuk souvenir," ujar Diah Yulianti saat ditemui di rumahnya.

Untuk menghasilkan kerajinan berkualitas, Diah menggunakan bambu apung yang didapatkan dari Desa Selokajang. Setiap hari, ia mampu memproduksi sekitar 20-25 buah anyaman bambu per jenis, tergantung pada pesanan. Produk-produk seperti tompo, tas, dan souvenir menjadi yang paling laris di pasaran.

"Produksi dalam jumlah besar biasanya menunggu pesanan. Kalau untuk sehari-hari, kami lebih sering membuat tompo karena permintaannya selalu ada," jelasnya.

Hasil kerajinan ini tidak hanya dipasarkan di pasar-pasar lokal Blitar dan Tulungagung, tetapi juga menjangkau daerah lain seperti Kediri, Malang, Surabaya, hingga Bali. Bahkan, beberapa pemborong sering datang langsung ke tempat produksi untuk membeli dalam jumlah besar.

"Dalam sebulan, kami bisa menjual sekitar 1.000 biji anyaman bambu dengan harga mulai dari Rp3 ribu hingga Rp25 ribu per buah, tergantung bentuk dan ukurannya," tambah Diah. Dari hasil penjualan tersebut, omset yang diperoleh bisa mencapai Rp3 juta setiap bulan.

Hasil kerajinan anyaman bambu bisa dibuat berbagai macam bentuk seperti tompo, tas, souvenir dan sebagainya
Hasil kerajinan anyaman bambu bisa dibuat berbagai macam bentuk seperti tompo, tas, souvenir dan sebagainya

Namun, usaha ini tidak lepas dari tantangan. Salah satu kesulitan utama adalah munculnya jamur dan bintik hitam pada produk saat musim hujan. Untuk mengatasi masalah ini, Diah memiliki cara tradisional yaitu dengan mengasapi barang-barang yang sudah jadi.

"Kalau musim hujan memang sering muncul jamur atau bintik hitam. Biasanya kami mengasapinya supaya tetap awet," ungkapnya.

Selain memproduksi anyaman bambu untuk dijual, usaha ini juga menjadi tempat belajar bagi anak-anak sekolah yang ingin mempelajari keterampilan membuat kerajinan tangan.

"Kadang ada anak sekolah yang datang ke sini untuk belajar membuat anyaman bambu. Biasanya mereka datang saat akan mengikuti perlombaan," kata Diah.

Baca Juga: Dari Hobi Menjadi Ladang Usaha: Pengukir Kayu dI Blitar Ungkap Tantangan dan Harapan

Kerajinan anyaman bambu Dusun Tumpuk tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi keluarga Diah Yulianti tetapi juga melestarikan warisan budaya lokal sekaligus memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai seni tradisional Indonesia. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#bambu #modern #kerajinan #anyaman bambu