BLITAR – Batik bukan sekadar kain bercorak, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga dan dikembangkan. Rumah Batik Djojo Koesoemo yang ada di Desa Garum Kabupaten Blitar ini hadir sebagai salah satu pelopor pelestarian batik khas Blitar, yang dikelola oleh tiga anak muda lulusan Universitas Negeri Malang Jurusan Seni Rupa yakni Yoga Dwi Nugroho (23), Icha Nuril Labiba (24), dan Amrina Rosyada (24). Berkat tangan kreatif mereka, batik khas Blitar semakin dikenal dan memiliki sentuhan inovatif yang menarik perhatian generasi muda.
Nama “Djojo Koesoemo” diambil dari bunga Wijaya Kusuma yang memiliki filosofi mendalam.
“Wijaya artinya kemenangan, Kusuma artinya tegak. Dulu ada mitos, barang siapa yang melihat bunga Wijaya Kusuma mekar, maka ia akan memperoleh keberuntungan. Kami berharap nama ini membawa keberuntungan bagi Rumah Batik Djojo Koesoemo,” ungkap Yoga.
Rumah Batik Djojo Koesoemo telah berdiri sejak tahun 2008 dan mulai dikenal luas pada 2010-an. Salah satu ciri khas batik yang mereka kembangkan adalah motif-motif yang mencerminkan identitas Blitar serta sentuhan modern dan kontemporer .
“Kami lebih mengangkat ciri khas Blitar, seperti motif koi yang merepresentasikan banyaknya pengusaha koi di Blitar, motif Penataran, motif Singo Barong, lele, dan kawung. Semua motif itu memiliki filosofi yang kuat dan menggambarkan kearifan lokal,” tambah Yoga.
Dari segi teknik, batik yang dihasilkan memiliki keunikan tersendiri. Yoga menjelaskan bahwa proses pengerjaan batik di Rumah Batik Djojo Koesoemo sangat detail.
“Batik kami merupakan batik tulis dengan motif yang sangat detail. Teknik pewarnaannya juga berbeda, kami menggunakan teknik celup dan tutup berulang kali. Sehingga untuk satu kain bisa memakan waktu antara satu hingga empat bulan,” jelasnya.
Selain batik tulis, Rumah Batik Djojo Koesoemo juga menghadirkan variasi seperti batik cat, batik abstrak, dan batik kontemporer yang lebih berwarna. Hal ini dilakukan untuk menarik minat anak muda agar lebih mengenal dan mencintai batik.
“Awalnya kami menggunakan warna-warna pastel dan soft, tapi sekarang kami berani menggunakan lebih banyak warna agar lebih menarik,” kata Yoga.
Dalam hal pemasaran, Rumah Batik Djojo Koesoemo memanfaatkan berbagai platform digital serta aktif berpartisipasi dalam pameran.
“Kami lebih banyak mengikuti pameran agar orang tahu dan tertarik. Sekarang kami juga aktif di TikTok dan Instagram,” ujarnya. Selain itu, mereka juga membuka kelas membatik bagi anak sekolah maupun masyarakat umum.
Meski terus berkembang, Rumah Batik Djojo Koesoemo menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah faktor cuaca.
“Kalau cuaca tidak mendukung, proses membatik jadi lebih lama. Apalagi kalau ada kelas batik, peserta bisa jenuh karena prosesnya lebih panjang,” ungkap Yoga.
Namun, dalam hal alat dan bahan, mereka berusaha menggunakan barang daur ulang untuk mendukung keberlanjutan. “Kami menggunakan barang-barang bekas yang masih layak, seperti spon bekas untuk kuas, kayu bekas untuk kursi dan pigura,” tambahnya.
Ke depan, Yoga dan tim berharap agar lebih banyak anak muda yang menghargai batik dan memahami proses pembuatannya.
“Harapan kami, anak-anak muda lebih menghargai batik dan tahu bagaimana proses pembuatan batik yang asli. Kami ingin batik lebih dikenal dan dicintai oleh generasi muda, bukan sekadar dikenakan saja,” tutup Yoga.
Dengan semangat inovasi dan kecintaan terhadap budaya, Rumah Batik Djojo Koesoemo terus melangkah untuk melestarikan batik khas Blitar dan menjadikannya lebih dekat dengan masyarakat, terutama kalangan muda. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah