BLITAR - Ada banyak teknik untuk mencetak motif pada pakaian, yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Di Indonesia, batik sangat populer dan memiliki beberapa teknik pembuatan. Selain batik, terdapat pula teknik ecoprint yang memanfaatkan bahan-bahan alami.
Ecoprint merupakan teknik pewarnaan kain dengan menggunakan bahan alami seperti daun dan bunga yang ditempelkan pada kain, lalu dikukus (steam) agar motifnya menempel secara alami. Keunikan dari ecoprint terletak pada hasilnya yang tidak dapat diprediksi, menciptakan motif-motif eksklusif yang ramah lingkungan.
Salah satu pelaku usaha ecoprint di Blitar adalah Erma Hendra Rini (44), pemilik Mahendra Craft yang berlokasi di Kademangan, Kabupaten Blitar. Erma Hendra Rini mulai mendalami ecoprint setelah mendapatkan pelatihan dari Dinas Koperasi pada tahun 2019. Menurutnya, ecoprint memiliki daya tarik tersendiri karena setiap prosesnya memberikan kejutan.
"Ecoprint itu unik, hasilnya tidak bisa ditebak. Begitu kain dibuka setelah dikukus, selalu ada kejutan. Ini yang membuat saya semakin penasaran dan terus belajar mengembangkan tekniknya," ujar Erma.
Untuk menghasilkan motif yang baik, Mahendra menekankan pentingnya memahami jenis daun yang digunakan. Menurutnya, dalam Ecoprint, perlu memahami daun yang bisa mengeluarkan pigmen warna dan yang hanya meninggalkan jejak.
"Karena di sini Ecoprint itu sebenarnya kita mau mencetak daun atau untuk menempelkan daun di suatu media lain itu harus belajar dulu dasarnya dan daun-daun yang bisa mengeluarkan pigmen warna. Jadi tidak semua daun itu bisa mengeluarkan jejak-jejak daun dan warna," ungkap Erma.
Ia menjelaskan bahwa daun jati muda bisa memberikan warna merah, sedangkan kenikir menghasilkan warna hijau. "Ada juga yang tidak berwarna, hanya meninggalkan jejak saja, seperti daun pepaya yang hanya menampilkan bentuknya tanpa warna. Jadi dalam Ecoprint, penting untuk memahami daun mana yang berpigmen dan mana yang hanya bisa meninggalkan jejaknya saja," tambahnya.
Meski memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan, ecoprint masih belum terlalu dikenal luas di masyarakat Blitar. Oleh karena itu, Erma berupaya memperkenalkan teknik ini melalui berbagai pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan melibatkan warga sekitar yang memiliki keterampilan menjahit untuk mengolah kain ecoprint menjadi berbagai produk seperti dompet, topi, dan aksesoris lainnya.
"Kami berusaha memberdayakan masyarakat. Jadi, mereka yang punya keterampilan menjahit bisa mengolah kain ecoprint menjadi produk jadi. Dengan begitu, mereka tetap bisa berkontribusi meskipun belum memahami teknik ecoprint sepenuhnya," tambahnya.
Dalam memasarkan produknya, Erma memanfaatkan berbagai platform, baik secara offline maupun online. Ia rutin mengikuti pameran di berbagai daerah, termasuk yang pernah ia ikuti di Grand City, Surabaya, yang difasilitasi oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Sementara itu, pemasaran online dilakukan melalui media sosial seperti Instagram, Tiktok, Facebook dan Whatsapp.
Tantangan utama dalam mengembangkan ecoprint di Blitar adalah minimnya pemahaman masyarakat serta masih terbatasnya jumlah pengrajin. Namun, Erma tetap optimis bahwa dengan edukasi dan dukungan dari berbagai pihak, ecoprint bisa menjadi salah satu kerajinan unggulan daerah.
Tak hanya fokus pada produksi, Erma juga aktif dalam kegiatan pelatihan. Ia pernah memberikan pelatihan kepada komunitas ojek online (ojol) agar mereka bisa menambah penghasilan dengan membuat buket bunga ecoprint. Selain itu, ia juga sering diundang sebagai narasumber dalam berbagai kegiatan pelatihan UMKM.
Dengan semakin berkembangnya tren produk ramah lingkungan, ecoprint memiliki peluang besar untuk semakin dikenal dan diminati. Mahendra Craft menjadi salah satu bukti bahwa kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan, menciptakan produk yang bernilai seni sekaligus bernilai ekonomi bagi masyarakat. (*/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah