BLITAR - Momentum menjelang Ramadan memberikan berkah tersendiri bagi para pedagang bunga sekar yang berada di selatan pasar legi kota Blitar. Tradisi ziarah kubur yang menjadi faktor utama meningkat permintaan bunga tabur melonjak tajam.
Cindi Febiana Kinanti (20), seorang penjual bunga sekar di sekitar rel kereta api bagian utara, merasakan berkah tersendiri menjelang bulan suci Ramadan.
Sejak tahun 2021, Febi, sapaan akrabnya, telah menggeluti usaha penjualan bunga sekar. Ia menuturkan bahwa permintaan bunga sekar melonjak drastis setiap menjelang Ramadan.
"Setiap tahun, terutama menjelang Ramadan, permintaan bunga sekar selalu meningkat. Alhamdulillah, ini menjadi berkah bagi kami para penjual," ujar Febi ditemui pekan lalu.
Febi menjelaskan bahwa faktor utama peningkatan permintaan ini adalah tradisi ziarah kubur yang dilakukan masyarakat sebelum memasuki bulan puasa. Masyarakat berbondong-bondong mengunjungi makam keluarga untuk mendoakan dan menaburkan bunga sebagai bentuk penghormatan.
"Tradisi ziarah kubur sudah menjadi kebiasaan masyarakat, terutama di Jawa. Mereka datang untuk membersihkan makam dan menaburkan bunga sebagai simbol kasih sayang," jelas Febi.
Di tengah kesibukan masyarakat mempersiapkan diri menyambut bulan suci, permintaan akan bunga tabur untuk ziarah kubur pun meningkat pesat. Hal ini dimanfaatkan betul oleh para penjual bunga, salah satunya Febi.
"Saya mulai berjualan sejak pukul 05.00 pagi hingga 16.00 sore," ungkap Febi, seorang penjual bunga sekar di pasar tradisional. "Waktu berjualan di bulan Ramadan ini memang sangat ramai, jadi saya harus memanfaatkan momen ini sebaik mungkin."
Tradisi ziarah kubur menjelang bulan Ramadan menjadi berkah tersendiri bagi para penjual bunga tabur. Namun, di balik ramainya pembeli, ada cerita tentang lonjakan harga yang signifikan. Permintaan yang meningkat drastis membuat harga bunga yang biasa digunakan untuk tabur makam ini melonjak tajam.
"Kalau hari-hari biasa itu murah mas, harga jualnya cuma dua ribu sampai tiga ribu. Tapi kalau hari menjelang Ramadan ini bisa naik, kadang satu taningnya lima ribu sampai enam ribu," ungkap Febi, salah seorang pedagang bunga sekar di pasar tradisional.
Menurut Febi, kenaikan harga ini sudah menjadi siklus tahunan. Meningkatnya jumlah peziarah yang ingin membersihkan dan menabur bunga di makam keluarga membuat permintaan akan bunga sekar meningkat berlipat ganda.
"Biasanya, sehari saya hanya menjual sekitar 50 taning bunga. Tapi menjelang Ramadan, bisa sampai 250-300 lebih taning per hari," jelas Febi.
Jika pada hari biasa omzet penjualan bunga sekar hanya berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000 per hari, kini menjelang Ramadan, omzetnya melonjak hingga mencapai Rp500.000 hingga Rp600.000 per hari.
Febi menjelaskan, peningkatan permintaan bunga sekar ini sudah mulai dirasakan sejak seminggu menjelang bulan ramadan. Jenis bunga yang paling banyak dicari adalah bunga mawar, melati, dan kenanga. Ia juga menambahkan bahwa harga bunga sekar mengalami sedikit kenaikan akibat meningkatnya permintaan.
Lonjakan omzet penjualan bunga sekar ini tidak hanya dirasakan oleh Febi, tetapi juga oleh pedagang bunga lainnya di pasar tersebut. Mereka berharap, peningkatan permintaan ini akan terus berlanjut hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah