BLITAR - Memasuki bulan suci Ramadan, aroma manis kue kering mulai tercium dari dapur-dapur rumahan. Para produsen jajanan khas Lebaran mulai sibuk memenuhi pesanan yang kian meningkat. Tak terkecuali bagi Siti Masitoh, warga Kelurahan Dandong, Kecamatan Srengat, yang dengan telaten menakar bahan hingga menjadi adonan kue kering siap dipanggang.
Teriknya matahari siang itu tak menyurutkan semangat Siti Masitoh untuk tetap sibuk di dapurnya. Perempuan paro baya asal Kelurahan Dandong, Kecamatan Srengat, ini tampak telaten menakar bahan, mencampur adonan, hingga memanggang kue kering yang akan menjadi suguhan khas Lebaran.
Begitu memasuki bulan Ramadan, rutinitasnya berubah. Dari yang sehari-hari berjualan sembako di Pasar Srengat, kini dia lebih banyak berkutat dengan oven dan loyang kue.
“Saya hanya membuat kue saat Ramadan dan menjelang Idul Fitri saja, karena kalau setiap hari rasanya belum sanggup. Semua dikerjakan sendiri, sesekali anak-anak membantu, tapi tetap terbatas,” ujarnya, sembari mengaduk adonan nastar di sebuah baskom besar.
Kue kering buatannya memiliki daya tarik tersendiri. Bukan hanya karena rasanya yang lezat, melainkan juga karena proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional. Untuk nastar, misalnya, selai nanas buatannya tidak instan.
Dia sendiri yang memilih buah nanas terbaik, memarutnya secara manual agar teksturnya tetap berserat, lalu merebusnya dengan gula dan kayu manis hingga mengental dan mengeluarkan aroma khas.
“Memang kalau membeli selai nanas langsung akan praktis dan mempersingkat waktu. Tapi, rasa yang dihasilkan memiliki perbedaan signifikan dengan selai yang diproduksi sendiri. Tepung yang akan digunakan untuk adonan juga disangrai agar bisa lebih lembut dan tahan lama,” bebernya.
Dalam sehari, dia dapat memproduksi kue nastar hingga 5 kilogram. Bahkan, di momen Ramadan tahun sebelumnya, dia mampu menjual puluhan hingga ratusan kilogram kue nastar. Bahkan, dia mengaku tak pernah mendapat kelas khusus untuk pembuatan kue kering ini.
“Untuk produksinya, saya biasa mengawali mulai hari pertama Ramadan. Sebab selama ini dikerjakan sendiri, terlebih juga harus membagi waktu berjualan sembako sebagai penghasilan utama. Iya, ini dari hobi saya yang suka memasak ya, dari banyak uji coba akhirnya menemukan resep yang pas untuk kue kering ini,” tandasnya.
Selain nastar, beberapa jenis kue kering lain yang diproduksinya dan selalu laris di pasaran adalah kue cokelat kacang, cokelat kurma, serta kastengel.
Tak hanya kue kering, dia juga memanfaatkan momen Ramadan untuk memproduksi sambal pecel. Produk khas Blitar ini banyak diburu sebagai oleh-oleh dan parsel Lebaran.
“Kalau sambel pecel memang setiap hari membuat, tapi kalau sudah mendekati Lebaran, pesanan bisa naik drastis. Banyak yang membeli untuk oleh-oleh atau parsel,” pungkasnya. (ham/c1/din)
Editor : M. Subchan Abdullah