BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - KH Yasin Yusuf Blitar adalah sosok ulama besar dan mubalig kondang yang lahir di Kademangan pada tahun 1934.
Namanya begitu masyhur, terutama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Salah satu kisah menarik tentang beliau diceritakan oleh KH Achmad Chalwani dari Purworejo.
Dikisahkan bahwa KH Yasin Yusuf Blitar pernah sowan ke KH Hamid Pasuruan, seorang waliyullah yang terkenal dengan kewaliannya.
Saat itu, KH Hamid Pasuruan berpesan kepadanya, "Pak Yasin, jenengan adalah mubalig yang sangat laris. Ganjaran jenengan sangat besar."
KH Yasin Yusuf Blitar dengan rendah hati menjawab, "Nggih, menawi ikhlas." KH Hamid Pasuruan kemudian menimpali, "Menawi jenengan mboten ikhlas, pun mboten payu."
Perkataan ini seolah menjadi isyarat bahwa keikhlasan adalah kunci keberkahan dakwahnya.
Keikhlasan KH Yasin Yusuf Blitar dalam berdakwah terbukti dalam berbagai kejadian.
Pernah suatu kali, beliau diundang berceramah di Surabaya sebanyak tiga kali oleh seseorang yang dengan sengaja tidak mengadakan selawatan dalam acaranya.
Meskipun demikian, KH Yasin Yusuf Blitar tetap hadir tanpa sedikit pun mengeluh atau protes.
Setelah tiga kali menghadiri undangan tersebut, akhirnya pihak pengundang sadar akan ketulusan KH Yasin Yusuf Blitar dan memohon maaf, serta memberikan selawatan yang sempat tertunda.
Selain sebagai mubalig yang disegani, KH Yasin Yusuf Blitar juga merupakan Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kademangan, Blitar.
Jabatan ini diembannya sepanjang hidupnya, meskipun berulang kali ditawari posisi yang lebih tinggi di kepengurusan NU, baik di tingkat cabang, wilayah, maupun pusat.
Menjelang Konferensi NU Cabang Blitar, para kiai setempat meminta beliau untuk maju sebagai Ketua Cabang, namun beliau menolak dengan alasan ingin tetap berkhidmat di MWC saja.
Bahkan, ketika ada permintaan dari pengurus NU Wilayah Jawa Timur agar beliau menjadi pengurus wilayah, KH Yasin Yusuf Blitar tetap menolak dengan jawaban yang sama.
Hal yang lebih mengejutkan lagi, ketika PBNU dari Jakarta memintanya untuk masuk dalam kepengurusan pusat, beliau tetap bersikukuh untuk tetap berada di tingkat MWC.
Dari sikap KH Yasin Yusuf Blitar ini, terlihat bahwa bagi beliau pengabdian lebih utama daripada jabatan.
Beliau menjadi teladan bahwa berkhidmat di NU bukanlah tentang kedudukan, melainkan tentang ketulusan dalam mengabdi kepada umat.
Kisah hidup KH Yasin Yusuf Blitar adalah inspirasi bagi kita semua bahwa keikhlasan dalam berdakwah dan berjuang lebih berharga daripada sekadar mengejar jabatan.
Semoga teladan beliau terus menginspirasi umat Islam, khususnya generasi muda NU dalam berjuang di jalan agama dengan penuh keikhlasan.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.