BLITAR - Di tengah kemajuan teknologi dapur, masyarakat Blitar masih mempertahankan tradisi memasak menggunakan tungku bakar atau luweng.
Meski kini kompor gas dan listrik lebih dominan, luweng tetap menjadi pilihan utama saat mengadakan acara adat seperti selametan atau pernikahan.
Mengapa Luweng Masih Digunakan?
-
Cita Rasa yang Autentik: Memasak dengan kayu bakar memberikan aroma khas yang sulit ditiru oleh alat modern. Masakan tradisional seperti opor, gudeg, dan tumpeng terasa lebih sedap karena proses pemasakan yang perlahan.
-
Bagian dari Tradisi: Penggunaan luweng menjadi simbol keberkahan dan kebersamaan. Dalam acara selametan, memasak bersama di dapur besar dengan luweng menciptakan momen gotong royong yang mempererat tali silaturahmi.
-
Ekonomis dan Berkelanjutan: Bagi masyarakat di pedesaan, kayu bakar lebih mudah didapatkan dan menjadi alternatif hemat biaya dibanding bahan bakar modern.
Luweng dalam Acara Besar
Dalam acara pernikahan atau hajatan, luweng sering digunakan untuk memasak dalam jumlah besar. Misalnya, saat membuat nasi liwet, ayam ingkung, atau sayur lodeh untuk puluhan tamu, luweng mampu menampung panci besar dan menjaga panas stabil lebih lama.
Pelestarian Budaya Lokal
Meski terkesan tradisional, luweng adalah warisan budaya yang mengandung nilai historis dan filosofis.
Banyak keluarga di Blitar masih merawat luweng sebagai bagian dari identitas lokal dan upaya melestarikan cara memasak leluhur.
Penggunaan luweng di Blitar membuktikan bahwa teknologi modern tidak selalu menggantikan tradisi. Sebaliknya, masyarakat memilih merawat luweng sebagai simbol kebersamaan, kearifan lokal, dan penghormatan terhadap budaya.
Jadi, kalau berkunjung ke Blitar dan berkesempatan menikmati masakan dari luweng, jangan lewatkan sensasi kelezatan yang kaya akan makna sejarah.(*)
Editor : M. Subchan Abdullah