BLITAR - Bagi sebagian besar orang, dunia kesehatan dan seni tari adalah dua bidang yang sangat berbeda. Namun, bagi Abella Putri Aulia, keduanya justru saling melengkapi. Warga Desa Sutojayan, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, ini tak hanya menekuni pendidikan di bidang kesehatan, tetapi juga terus berkarya di dunia seni tari.
Sejak kecil, Abella -sapaan akrabnya- sudah akrab dengan dunia seni tari. Perjalanan seninya dimulai saat dia masih duduk di bangku TK dengan mengikuti ekstrakurikuler tari yang diwajibkan di sekolahnya.
Meski awalnya tidak begitu serius, pengalaman tampil di depan banyak orang justru menumbuhkan ketertarikannya terhadap seni tari.
Namun, di tengah perjalanannya, dia sempat terhenti saat berada di kelas TK B untuk fokus pada bimbingan belajar demi menunjang pendidikannya.
"Saya sempat berhenti menari karena ingin lebih fokus belajar," ungkapnya. Namun, kecintaannya terhadap tari kembali muncul ketika duduk di bangku SD.
Saat menginjak kelas 4 SD, Abella mendapat tantangan besar dari gurunya untuk mengikuti seleksi Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kecamatan. Awalnya, dia merasa minder karena banyak peserta lain yang lebih berpengalaman.
"Saya sempat berpikir, apa saya bisa bersaing? Tapi guru saya meyakinkan bahwa semua adalah bagian dari proses," kenangnya.
Meskipun belum berhasil di kesempatan pertama, Abella tidak menyerah. Tahun berikutnya, dia kembali mengikuti seleksi dan akhirnya berhasil masuk dalam perlombaan tersebut.
Ketekunan dan semangatnya semakin terasah saat pandemi Covid-19 melanda. Meski kegiatan sekolah beralih ke daring, Abella tetap berusaha untuk terus mengasah kemampuan menarinya secara otodidak melalui YouTube. “Iya, bermodal latihan sendiri di rumah, memberanikan diri untuk ikut serta di FLS2N kabupaten dan akhirnya berhasil meraih juara tiga,” bebernya.
Di luar dunia seni, Abella tetap berkomitmen dengan pendidikannya, khususnya di bidang kesehatan.
Kini, dia tercatat sebagai siswa kelas dua SMK Indonesia Putra dan memiliki impian besar untuk melanjutkan kuliah di bidang kesehatan sembari tetap aktif dalam seni tari. "Saya ingin tetap menekuni dunia kesehatan tanpa harus meninggalkan seni tari," ujarnya.
Tak hanya menjadi penari, Abella juga aktif mengajar tari di SD dan MI. Setiap Sabtu, dia membagi waktunya untuk berbagi ilmu kepada anak-anak yang ingin belajar tari.
Selain itu, dia juga berpartisipasi dalam berbagai ajang prestasi, mulai dari lomba fashion show, puisi, hingga mengikuti Osembe Seni Tari tingkat nasional.
Prestasinya di dunia seni tak menghalanginya untuk berkontribusi di bidang sosial. Dia bahkan pernah mendaftar menjadi Duta Pemuda Kabupaten Blitar, Duta GenRe Kota Blitar, dan kini menjabat sebagai Duta Pelajar Antinarkoba Provinsi Jawa Timur.
Menyeimbangkan dua dunia yang berbeda tentu bukan hal yang mudah. Namun, Abella memiliki cara tersendiri untuk mengatur waktunya. "Saya membuat jadwal harian. Kalau ada latihan tari atau job, saya pastikan dilakukan setelah pulang sekolah, dan di malam hari saya tetap mengerjakan tugas sekolah," jelasnya.
Ke depan, Abella berencana mendirikan sanggar seni sendiri yang dapat diakses oleh semua kalangan, terutama bagi mereka yang ingin belajar tari tanpa biaya.
"Saya ingin tetap berada di dunia kesehatan, tapi saya juga ingin seni tari tetap hidup. Semoga nanti saya bisa menggratiskan kelas tari bagi anak-anak yang ingin belajar," pungkasnya. (ham/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah