Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Turut “Merasakan” Nuansa Ramadan di Lapas Kelas IIB Blitar: Jadi Jalan Tobat dan Refleksi Napi

Muhamad Ilham Baha’udin • Kamis, 13 Maret 2025 | 05:00 WIB
REFLEKSI: Sejumlah warga binaan mengikuti tadarus Alquran selama Ramadan di Lapas Kelas IIB Blitar, kemarin (11/3).
REFLEKSI: Sejumlah warga binaan mengikuti tadarus Alquran selama Ramadan di Lapas Kelas IIB Blitar, kemarin (11/3).

BLITAR - Ramadan di balik jeruji besi, bagi sebagian orang mungkin terasa begitu menyesakkan.

Namun, bagi warga binaan di Lapas Kelas IIB Blitar, Ramadan justru menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.  

Sejak pagi hingga malam, lantunan ayat-ayat suci Alquran menggema dari Masjid At-Taubah, tempat warga binaan pria menjalankan ibadah.

Sementara bagi warga binaan perempuan, kegiatan keagamaan difokuskan di blok wanita.

"Kegiatan keagamaan di sini seperti biasa, tidak ada perubahan signifikan, hanya saja selama Ramadan ada tambahan tadarus Alquran setelah pengajian dan setelah salat Tarawih," ujar Kasi Binadik dan Giatja Lapas Kelas IIB Blitar, Pradana Suwito Putra, Rabu (12/3/2025).

Setiap pagi, warga binaan yang beragama Islam memulai hari dengan salat sunah seperti salat tobat dan hajat. Setelah itu, mereka mengikuti kelas baca tulis Alquran secara mandiri.

Khusus pada hari Selasa, Lapas Kelas IIB Blitar bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) untuk mengadakan pengajian. Acara ini dibagi menjadi dua sesi, terpisah antara laki-laki dan perempuan.

"Kegiatannya mulai dari salat sunah, tausiyah, hingga kuis interaktif tentang ilmu agama. Antusiasme warga binaan cukup tinggi, terutama saat sesi tanya jawab bersama ustad," bebernya.

Selepas pengajian, ada tambahan kegiatan tadarus. Sesi pertama dilakukan setelah pengajian rutin, sedangkan sesi kedua digelar setelah salat Tarawih.

Semua kegiatan ini berlangsung di Masjid At-Taubah, kecuali bagi warga binaan perempuan yang melaksanakan ibadah di blok wanita.

“Dari total 593 warga binaan, sekitar 570 di antaranya beragama Islam. Sisanya sekitar 20 orang merupakan non-muslim. Meski demikian, hampir semua warga binaan yang beragama Islam menjalankan ibadah puasa dengan khidmat,” terangnya.

Baca Juga: Laga Persik Kediri vs PSM Makassar Dijaga Ketat Ratusan Personel

Di balik jeruji besi, Ramadan menghadirkan rasa haru dan refleksi mendalam bagi para warga binaan.

Seperti yang dirasakan salah seorang narapidana kasus prostitusi online, Aulia, 28. Ramadan tahun ini adalah yang pertama kali dia jalani di dalam lapas.

"Awalnya sedih, terutama kalau ingat keluarga, tapi lama-lama terbiasa. Sekarang lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman, ngobrol, dan mengaji. Itu cukup membantu," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Aulia baru menikah kurang dari sebulan sebelum akhirnya dijatuhi vonis 3 tahun penjara. "Semoga tahun depan bisa merayakan Ramadan di rumah," harapnya lirih.

Meski menjalani Ramadan dalam keterbatasan, banyak warga binaan justru merasa lebih dekat dengan agama.

Menurutnya, Ramadan bukan sekadar bulan puasa, melainkan juga perjalanan spiritual untuk bertobat memperbaiki diri.  

"Di sini lebih banyak belajar sabar, lebih tenang, dan lebih banyak memahami makna kehidupan. Harapan kami sederhana, kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik,” pungkasnya. (*/c1/sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#mengaji #nuansa #blitar #tadarus #napi #lapas #refleksi #ramadan #lapas kelas II B Blitar