BLITAR – Video klip lagu berjudul Iclik Cinta yang dilantunkan oleh Mala Agatha turut menjadi sorotan legislatif. Lembaga wakil rakyat tersebut menyayangkan adanya video klip lagu yang dinilai tidak etis dan tak mendidik tersebut.
Kejadian ini harus menjadi pembelajaran bagi semua pihak, terutama pelaku seni dan budaya. Ketika berkarya, seniman tetap harus memperhatikan norma dan etika yang berlaku.
"Bukan berarti membatasi ekspresi sebuah karya seni, melainkan lebih kepada pemahaman tentang norma dan etika di suatu wilayah,” kata Sekretaris Komisi II DPRD Kota Blitar, Nuhan Eko Wahyudi, Kamis (13/3/2025).
Apalagi, lanjut dia, video klip tersebut dibuat di area Makam Bung Karno dan Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Dua tempat tersebut tentu merupakan tempat yang menjunjung nilai dan pemikiran Bung Karno.
”Tentunya tidak etis jika lirik lagu yang dinyanyikan tidak sesuai dengan nilai yang diemban perpustakaan. Jadi sangat disayangkan,” ujarnya.
Komisi yang membidangi pariwisata ini mengapresiasi langkah sebagian kalangan masyarakat yang mengkritisi video klip berjudul Iclik Cinta tersebut. Terlebih, ada yang melaporkan video klip yang membuat gaduh masyarakat tersebut kepada pihak yang berwajib.
“Ini biar menjadi pembelajaran bagi penyanyi sekaligus manajemennya. Kendati tidak berharap dikenai sanksi pidana, toh setidaknya mereka sudah mendapat sanksi moral. Jangan sampai ini terulang kembali,” harapnya.
Menurut Nuhan, pelaku seni juga harus memahami tentang norma, etika, hingga literasi bahasa. Artinya, penggunaan bahasa atau kata-kata dalam lagu juga harus disesuaikan dengan kondisi latar belakang yang akan dijadikan video klip.
”Jadi, bahasa juga harus diperhatikan. Bahasanya yang bagus. Jangan hanya sekadar mengejar popularitas dan menggunakan bahasa yang tidak etis,” tutur politikus PPP ini.
Dia berharap upaya masyarakat yang melaporkan video klip tersebut hingga mengkritisinya membuat efek jera bagi Mala Agatha dan manajemen. Jangan sampai kreativitas yang dilakukan berlebihan atau kebablasan.
”Kepada masyarakat dan khususnya bagi pelaku seni, mari tingkatkan literasi bahasa. Kita masih perlu banyak belajar sehingga bisa mengetahui mana yang pantas dan tidak pantas,” pungkasnya. (sub/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah