BLITAR - Tidak banyak orang mengetahui bangunan musala tertua ada di Kelurahan Bence, Kecamatan Garum. Musala tersebut sampai saat ini masih aktif digunakan untuk beribadah. Meskipun kecil, bangunan ini menjadi saksi bisu penyebaran Islam di Blitar.
Sebuah musala tua masih berdiri kokoh di Kelurahan Bence, Kecamatan Garum. Musala Asy’ari, yang disebut-sebut sebagai rumah ibadah tertua di Bumi Penataran ini, ternyata masih aktif digunakan oleh belasan jemaah setiap harinya.
Bangunan ini terletak di Lingkungan Bence dan dikenal sebagai warisan sejarah yang memiliki nilai spiritual tinggi.
Musala Asy’ari mudah ditemukan. Dari SPBU Garum, cukup berjalan ke utara melalui Jalan Ash Ngari, lalu belok ke timur sejauh 50 meter. Musala ini berhadapan langsung dengan rumah Muhammad Nasir Hariyanto, 66, yang merupakan cucu dari pendirinya, Mbah Asy’ari.
“Saya masih ingat betul ketika Mbah Asy’ari wafat pada 1967. Musala ini sudah ada sejak lama, bahkan diperkirakan dibangun pada 1920-an. Bisa dibilang, ini salah satu musala tertua di Blitar,” ungkap Hariyanto kepada Jawa Pos Radar Blitar.
Musala ini didirikan oleh Muhammad Asy’ari dengan tujuan menyebarkan ajaran Islam di Kecamatan Garum. Tak hanya sebagai tempat ibadah, musala ini juga pernah menjadi tempat istirahat bagi tentara Pembela Tanah Air (PETA) saat menghadapi prajurit Jepang di masa penjajahan.
Hingga kini, pengelolaan musala tetap berada di tangan keluarga keturunan Asy’ari. Sejak awal berdiri, tempat ini tidak hanya digunakan oleh keluarga, tetapi juga oleh warga sekitar.
Seiring waktu, bangunan musala telah mengalami beberapa kali renovasi. Terakhir, tiga tahun lalu, atap genting di terasnya diganti dengan kanopi agar lebih tahan lama.
Dulu, Musala Asy’ari cukup ramai dikunjungi jemaah. Namun, dengan banyaknya masjid dan musala baru yang berdiri di sekitar Bence II, jumlah jemaah kini berkurang. Meski begitu, rumah ibadah ini tetap digunakan setiap hari oleh sekitar belasan orang.
Kapasitas musala yang terbatas menjadi alasan jumlah jemaah tidak bisa terlalu banyak. Ruang utama hanya cukup untuk dua saf dengan total maksimal sekitar 20 orang.
Selain digunakan untuk salat fardu berjemaah, musala ini juga pernah menjadi pusat kegiatan mengaji bagi anak-anak sekitar. Namun, jumlah santri menurun setelah dibangun masjid yang lebih besar di dekatnya.
“Beberapa tahun lalu masih cukup ramai anak-anak yang mengaji di sini. Tapi setelah masjid di dekat SPBU Bence berdiri, banyak yang berpindah ke sana,” kata Hariyanto.
Saat Ramadan, Musala Asy’ari tetap digunakan untuk ibadah Tarawih. Namun hanya diperuntukkan bagi jemaah perempuan. Sementara itu, para jemaah laki-laki lebih memilih musala yang terletak di tepi jalan raya depan SPBU Bence.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan Musala Asy’ari tetap menjadi saksi perjalanan sejarah dan perkembangan Islam di Blitar. Meski tak sebesar masjid lain, musala ini masih setia menjadi tempat ibadah bagi warga yang ingin mengenang jejak perjuangan para pendahulu. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah