Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Pasangan Suami Istri Asal Kota Blitar Pintar Baca Peluang Bisnis Pai Nanas, Begini Strateginya

Muhamad Ilham Baha’udin • Sabtu, 29 Maret 2025 | 05:00 WIB
KREATIF: Pasangan suami istri menunjukkan pai nanas hasil produksinya.
KREATIF: Pasangan suami istri menunjukkan pai nanas hasil produksinya.

BLITAR - Pandemi Covid-19 membawa banyak cerita. Ada yang terpuruk, ada pula yang justru menemukan peluang baru. Seperti Chubil Maal, 37, dan istrinya, Fitri Maulana, 34, pasangan suami istri asal Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, yang sukses merintis bisnis kuliner berkat kolaborasi kreativitas dan strategi pemasaran digital mereka.

Di sebuah rumah yang tak jauh dari Pondok Pesantren Bustanul Muta’allimat, Kota Blitar, menjadi  tempat produksi jajanan untuk buah tangan. Berbagai kue kering maupun jajanan yang masih fresh from the oven ditata sedemikian rupa yang memanjakan mata.

Tampak pasangan suami-istri Chubil Maal dan Fitri Maulana tengah disibukkan dengan banyaknya pesanan di momen Idul Fitri. Sang suami, dengan senyum ramahnya bercerita, bisnis tersebut semua bermula pada 2020, ketika pandemi menghantam banyak sektor termasuk pekerjaan mereka.

“Saya yang sebelumnya bekerja di bidang marketing di bidang wisata tentu sangat terdampak dengan adanya pandemi. Berawal dari keisengan istri membuat pai susu jumbo untuk anak yang kemudian diunggah di WhatsApp story, banyak yang bertanya apakah open order,” ungkapnya, mengawali pembicaraan.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Fitri meminta pendapat sang suami. “Wis gas aja,” jawab Chubil mantap. Dari situlah, mereka mulai serius menekuni bisnis kuliner berbasis pai dengan pemasaran digital.

Pada awalnya, mereka hanya menawarkan pai susu dalam ukuran jumbo. Namun, seiring waktu, mereka ingin menciptakan produk yang lebih memiliki karakter khas daerah. Akhirnya, mereka memilih nanas sebagai bahan utama dan menghadirkan  pai nanas dengan potongan buah asli, bukan selai.

“Nanas di Blitar ini stoknya unlimited. Setiap hari ada, bahkan di luar musim pun tetap melimpah. Jadi kenapa nggak bikin sesuatu yang khas dari sini. Inovasi ini pun mendapat respons positif dari pelanggan, terutama mereka yang ingin membawa oleh-oleh khas Blitar selain buah nanas utuh,” bebernya.

Tentu saja perjalanan mereka tak selalu mulus. Pasalnya, mereka sempat mengalami kesulitan dalam menentukan resep yang pas hingga menemukan formula terbaik yang sesuai dengan lidah pelanggan.

 “Awal-awal kemasan kami juga masih sederhana. Penjualannya masih kurang maksimal. Jadi, setiap bulan kami evaluasi, untuk pai nanas ini baru produksi di tahun 2022 dan booming di 2024 setelah dibuat konten TikTok,” ungkap Fitri.

Dari sanalah banyak para calon pembeli, baik dari lokal maupun luar daerah, yang tertarik. Bahkan, pelanggan luar daerah sampai mendatangi tempat produksi untuk membeli, tapi harus kembali dengan tangan kosong lantaran produk buatan pasutri ini sudah ludes terjual.

“Iya, untuk pai nanasnya ini sistemnya pre order, karena mempertimbangkan produk kami yang dibuat dengan buah nanas fresh, bukan selai, sehingga daya simpannya terbatas di suhu ruang. Para customer dari luar daerah juga terus meminta agar produk dikirimkan,” bebernya.

Masalah lain muncul ketika mereka mulai mencoba mengirim pesanan ke luar kota. Dimulai dengan uji coba kirim ke keluarga, produk sampai hancur lebur. Tak ingin mengecewakan pelanggan, mereka terus mencari cara agar kemasan lebih aman hingga akhirnya menemukan formula pengemasan yang tepat.

Menjelang Idul Fitri, permintaan pai nanas melonjak hingga 30 persen dibandingkan hari biasa. Bahkan, sejak pertengahan Ramadan, mereka sudah menutup pre order karena kapasitas produksi yang terbatas. Banyak pelanggan dari luar kota yang mudik ke Blitar sengaja memesan jauh-jauh hari agar bisa membawa pai nanas sebagai oleh-oleh.

“Hari-hari besar seperti ini memang harus membatasi stok karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Tapi, kami tetap berusaha agar pelanggan tidak kecewa,” jelasnya.

Produk mereka sepenuhnya mengandalkan pemasaran digital, tanpa strategi konvensional. Dari Facebook hingga TikTok, mereka terus mengembangkan konten yang menarik untuk menjangkau lebih banyak pelanggan. “Hari ini, kalau nggak masuk ke digital, kita ketinggalan,” pungkasnya. (*/c1/ady)

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#pasangan #istri #suami #pandemi Covd-19 #nanas #Chubil Maal dan Fitri Maulana #pasutri #pai #kue kering