BLITAR - Juni Purnomo, warga Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, pria yang telah lebih dari satu dekade mengemban tugas sebagai juru kunci Makam Bung Karno, bukanlah sosok sembarangan. Sebelum dipercaya menjaga dan memandu peziarah di kompleks makam sang proklamator, dia lebih dulu bertugas di Istana Gebang, rumah masa kecil Bung Karno di Blitar.
Area makam sang Proklamator siang itu cukup lengang, hanya sedikit peziarah yang tengah khusyuk memanjatkan doa tatkala Koran ini berkunjung. Sesosok pria paro baya dengan senyum ramahnya menyapa. Iya, dia adalah sang juru kunci Makam Bung Karno (MBK), Juni Purnomo.
Dia tak pernah menyangka bahwa takdir akan membawanya ke MBK. Saat masih bertugas di Istana Gebang, dia mengalami mimpi ganjil yang hingga kini masih melekat dalam ingatannya.
“Saya melihat Bung Karno berdiri di sebelah timur rumah, menghadap ke selatan. Beliau memakai seragam hijau. Saya kaget. Saya belum pernah melihat Bung Karno secara langsung, tetapi dalam mimpi itu, saya merasa seolah benar-benar bertemu dengannya,” ungkapnya.
Tujuh hari setelah mimpi itu, dia mendapat panggilan dari atasannya dan ditawari menjadi juru kunci MBK. Awalnya dia sempat ragu. Namun, setelah diyakinkan, dia menerima tugas tersebut dengan ikhlas.
Bukan hal mudah menjadi juru kunci makam seorang tokoh besar seperti Bung Karno. Selain bertanggung jawab atas kebersihan dan keamanan area makam, Juni juga harus siap menghadapi ribuan peziarah yang datang dengan beragam latar belakang dan niat.
“Di sini bukan cuma soal menjaga makam, tetapi juga harus bisa memberi panduan sejarah, mengatur alur ziarah, dan terkadang mendampingi orang-orang yang punya permohonan khusus,” ujarnya.
Sebagai juru kunci, dia sering mengalami kejadian-kejadian di luar nalar. Salah satu yang paling berkesan adalah suara misterius yang menyuruhnya membersihkan makam.
“Kadang ada kotoran atau daun kering yang tertinggal, tiba-tiba saya seperti mendengar suara, ‘Le, kae mbok direseki, to, Le’. Saya langsung sadar, oh ini pesan dari beliau. Iya, percaya atau tidak percaya, karena memang selalu tidak bisa dinalar,” ceritanya.
Makam Bung Karno bukan sekadar tempat ziarah biasa. Banyak orang datang dengan berbagai maksud dan harapan. Ada yang ingin sukses dalam ujian, ada yang berharap dapat pekerjaan, bahkan ada yang meminta diberi keturunan.
“Ada yang dulunya datang ke sini karena belum punya anak. Bertahun-tahun kemudian datang lagi sambil membawa anaknya. Katanya, dulu tirakatan berdoa di sini, dan doanya dikabulkan,” kisahnya.
Dia memahami bahwa makam ini memiliki daya tarik spiritual bagi banyak orang. Namun, dia selalu mengingatkan bahwa segala sesuatu tetap bergantung kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Menjadi juru kunci bukan sekadar pekerjaan bagi pria tiga anak ini. Menurut dia, pekerjaan ini adalah pengabdian, sebuah tanggung jawab yang harus dijalani dengan penuh keikhlasan. Hingga hari ini, dia tetap setia menjaga dan merawat MBK, serta menyambut setiap peziarah yang datang dengan penuh hormat.
“Di sini saya belajar banyak hal. Tentang sejarah, tentang keikhlasan, dan tentang bagaimana kita harus selalu menghormati leluhur,” pungkasnya. (*/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah