BLITAR – Perayaan Idul Fitri di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, memiliki nuansa yang sangat kental dibandingkan daerah lain. Bahkan, Lebaran atau perayaan Hari Raya Idul Fitri lebih heboh dibandingkan dengan negara-negara asal penyebaran Islam.
Humas Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Blitar, Jamil Mashadi menyebutkan, bahwa tradisi Lebaran yang berkembang di masyarakat Jawa merupakan hasil akulturasi budaya yang tetap sejalan dengan ajaran agama.
"Di banyak negara lain, terutama di Timur Tengah, Idul Fitri dirayakan dengan sederhana. Tapi di Indonesia, khususnya di Jawa, Lebaran menjadi momen yang sangat meriah dengan tradisi unik seperti halal bihalal, mudik, dan berbagai hidangan khas," ungkap Jamil.
Menurutnya, tradisi ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tapi juga memiliki dasar dalam ajaran Islam. Lebaran menjadi wujud penyempurnaan ibadah, terutama dalam membangun hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) setelah sebulan penuh meningkatkan hubungan dengan Allah (hablum minallah). Saling memaafkan menjadi inti perayaan Idul Fitri.
Jamil menjelaskan, dalam Islam, ada dua jenis dosa yang harus diselesaikan oleh umat Muslim. Yakni, dosa yang berkaitan dengan hak Allah (haqqullah). “ Dosa yang bisa diampuni langsung oleh Allah jika seseorang benar-benar bertobat,” katanya.
Kedua, sambung dia, dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia (haqqul adami). Dosa ini tidak akan diampuni oleh Allah sebelum orang yang bersangkutan memaafkan.
"Inilah alasan mengapa tradisi silaturahmi dan saling memaafkan sangat penting dalam budaya Lebaran. Kita tidak ingin membawa beban dosa yang berkaitan dengan sesama, karena itu harus diselesaikan langsung dengan yang bersangkutan," jelasnya.
Namun, Jamil juga mengingatkan, meminta maaf sebaiknya dilakukan dengan bijaksana. Jika suatu kesalahan bisa memicu permasalahan baru saat diucapkan, lebih baik cukup dengan niat tulus dalam hati dan mengganti dengan perbuatan baik.
"Tidak semua kesalahan harus diungkapkan secara gamblang, karena bisa menimbulkan masalah baru. Yang penting ada niat tulus untuk memperbaiki diri dan menjaga hubungan baik," ujarnya.
Dengan demikian, kata Jamil, perayaan Lebaran bukan hanya sekadar tradisi budaya, tetapi juga representasi dari ajaran Islam yang diterjemahkan ke dalam kebiasaan masyarakat. Halal bihalal, mudik, serta kebiasaan berkumpul dengan keluarga besar menjadi wujud nyata dari ajaran Islam dalam konteks sosial dan budaya.
"Lebaran bukan hanya soal pakaian baru dan makanan enak. Ini adalah momen untuk memperbaiki hubungan, saling mengikhlaskan, dan kembali ke fitrah sebagai manusia yang lebih baik," pungkas Jamil. (hai/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah