BLITAR – Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar terus menggencarkan upaya pencegahan penularan penyakit menular dari ibu ke anak. Program triple eliminasi yang mencakup HIV, sifilis, dan hepatitis B menjadi fokus utama dalam skrining ibu hamil di seluruh fasilitas kesehatan.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar, Trianang Prasetyawan mengatakan, pemeriksaan ini dilakukan secara gratis sejak trimester pertama kehamilan.
Dengan begitu, dapat semakin cepat dipantau perkembangan dan dapat meminimalisasi potensi penyebaran penyakit dari ibu ke anak yang dikandung.
“Semua ibu hamil di trimester awal wajib menjalani tes HIV, sifilis, dan hepatitis B. Skrining ini bisa dilakukan di puskesmas, rumah sakit pemerintah, maupun rumah sakit swasta, dan gratis,” ungkapnya, Minggu (6/4/2025).
Langkah ini diambil untuk mendukung program triple eliminasi, guna menekan angka penularan penyakit yang bisa berdampak serius pada bayi yang baru lahir. Dinkes Kota Blitar mencatat, dari hampir 3.000 ibu hamil yang diperiksa pada tahun 2024, terdapat 18 kasus ibu hamil yang reaktif hepatitis B. Meski jumlahnya tergolong kecil, potensi penularan ke bayi tetap menjadi fokus utama.
“Kalau ditemukan ibu hamil reaktif hepatitis B, kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Jika memang ada virus aktif, maka diberikan pengobatan agar tidak menular ke bayi,” jelasnya.
Bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B langsung mendapat penanganan medis khusus. “Kurang dari 24 jam setelah lahir, bayi harus menerima vaksin hepatitis B dan imunoglobulin hepatitis B (HBig) untuk membangun kekebalan tubuhnya,” jelasnya.
Bayi tersebut akan dipantau hingga usia 9–12 bulan untuk memastikan tidak tertular virus dari ibunya.
Dia menegaskan, hepatitis B bukan penyakit keturunan, melainkan ditularkan melalui tiga jalur utama yakni cairan kelamin atau kontak seksual, darah melalui transfusi atau jarum suntik, ibu ke anak melalui tali pusat, persalinan, atau ASI.
“Di Indonesia, kasus hepatitis B pada anak masih tinggi. Jika tidak ditangani, penyakit ini bisa mengganggu pertumbuhan anak dan berisiko menjadi penyakit hati kronis di kemudian hari,” pungkasnya. (ham/din)
Editor : M. Subchan Abdullah