BLITAR – Jembatan Kali Lekso yang menghubungkan Desa Jatitengah dengan Desa Mronjo, Kecamatan Selopuro di Kabupaten Blitar menjadi salah satu akses penting bagi masyarakat yang bepergian dari wilayah Blitar Raya menuju wilayah Malang Raya, maupun sebaliknya.
Meski berada di jalur utama selatan Kabupaten Blitar, akses jembatan ini dinilai kurang lebar. Dampaknya, arus kendaraan besar harus bergantian saat melintasi jembatan.
Misalnya, saat arus lalu lintas meningkat, seperti saat libur panjang sekolah pekan lalu, antrian kendaraan besar semakin panjang dari kedua sisi jembatan. Sebab, meski di luar waktu libur panjang, sehari-hari juga terjadi momen kendaraan besar harus bergantian saat hendak melintasi Jembatan Kali Lekso.
Para pengendara kendaraan roda empat atau lebih harus lebih bersabar, menanti giliran melintas. “Mobil, bus, maupun truk, harus bergantian melintas karena jembatannya kurang lebar, kalau sepeda motor bisa langsung melintas,” jelas Suparmi, warga setempat.
Seperti diketahui, akses Jembatan Kali Lekso ini menghubungkan empat wilayah kecamatan yang berada di sebelah utara aliran Sungai Brantas, yakni antara Kecamatan Kanigoro, Talun, Selopuro, hingga Kesamben, yang berada di jalur utama selatan Kabupaten Blitar. Selain arus lalu lintas masyarakat umum, akses jalur utama selatan juga dilintasi trayek bus via Kanigoro.
Harapannya, untuk jangka panjang ada pelebaran akses jembatan maupun pembangunan jembatan baru, yang bisa memperlancar arus lalu lintas dari kedua sisi jembatan.
Contohnya, dua bangunan Jembatan Trisula yang menghubungkan wilayah Kelurahan/Kecamatan Kademangan, dengan Desa Tuliskriyo, dan Desa Plosoarang, Kecamatan Sanankulon, yang terpisah aliran Sungai Brantas. (ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah