Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pemuda Asal Kota Ini Dijebak Kerja Jadi Operator Judol Diimingi Gaji Tinggi, Seperti Apa Kisahnya? (2-Habis)

Fajar Rahmad Ali Wardana • Rabu, 9 April 2025 | 20:00 WIB
IR, Anak Muda Asal Kota Dijebak Kerja Operator Judol.
IR, Anak Muda Asal Kota Dijebak Kerja Operator Judol.

BLITAR - Kasus judi online (judol) melanda hampir seluruh negara, termasuk di Indonesia. Menjanjikan keuntungan besar, tapi sering kali berujung pada kehancuran finansial bagi para pelaku. Kepada Jawa Pos Radar Blitar, IR, mantan admin judol, mengungkap realitas kelam di balik sistem perjudian daring yang selama ini menjerat banyak korban.

IR mengawali pekerjaannya sebagai admin di sebuah situs judol. Tugas utamanya adalah mendaftarkan member baru, membantu deposit pemain, hingga memproses penarikan dana (withdraw). Dalam sehari, dia bisa menangani transaksi hingga ratusan juta rupiah.

“Saya kerja 12 jam, dan dalam rentang waktu itu, uang yang berputar bisa mencapai Rp 500 juta lebih. Kalau 24 jam, bisa sampai miliaran,” ungkap IR kepada Jawa Pos Radar Blitar beberapa waktu lalu.

Menurut IR, mayoritas pemain judol berasal dari Indonesia, khususnya dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Yang mengejutkan, banyak di antara mereka adalah ibu rumah tangga bahkan anak-anak remaja.

“Saya bisa melihat data rekening dan ID mereka. Kebanyakan dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Bahkan, ada ibu-ibu dan remaja yang ikut bermain,” ungkapnya.

Dia menuturkan, kemenangan dalam judol bukanlah sesuatu yang murni berdasarkan keberuntungan. Ada algoritma yang mengontrol siapa yang bisa menang dan seberapa besar kemenangannya.

“Dari uang yang masuk, hanya 30 persen yang dikembalikan ke pemain. Itu pun diberikan kepada mereka yang sering bermain. Jadi kalau ada yang menang besar, itu hanya skenario untuk membuat pemain terus berharap,” akunya.

Bahkan, ada kasus di mana seorang pemain menang Rp 90 juta, tetapi tidak dibayarkan karena belum cukup banyak melakukan deposit. Akhirnya, akun pemain tersebut diblokir tanpa bisa melakukan komplain.

“Kalau ada yang menang besar, pemilik situs akan mengecek apakah total depositnya sudah melebihi kemenangan. Kalau belum, ya tidak dibayar. Akunnya langsung diblokir,” terangnya.

Ketika ditanya mengapa situs judol sulit diberantas, IR menjelaskan bahwa pemilik situs selalu menemukan cara untuk menghindari pemblokiran.

“Kalau satu situs diblokir, mereka tinggal buat yang baru. Platform seperti Nexus bisa menyediakan banyak situs dalam waktu singkat,” katanya.

Selain itu, promosi judol juga gencar di media sosial seperti Facebook dan Telegram.

“Marketing judol menyebarkan iklan di mana-mana di segala lini. Bahkan di media sosial yang paling sering kita lihat iklan mereka,” ungkapnya.

IR menyarankan, judol bukanlah tempat mencari keuntungan. Pemain pasti akan kalah dalam jangka panjang karena sistemnya sudah diatur sedemikian rupa untuk menguntungkan pemilik situs.

“Logikanya, judi offline saja bisa dibohongi, apalagi yang online? Semua sudah di-setting. Tidak ada yang benar-benar menang di judol. Sebelum terlambat, lebih baik berhenti sekarang,” pungkasnya.

Pemerintah diharapkan dapat semakin ketat dalam menangani maraknya judol, sementara masyarakat perlu lebih sadar bahwa dibalik janji keuntungan besar. Ada jebakan yang siap menjerat mereka dalam lingkaran kerugian tanpa akhir. (*/c1/sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#kemenangan #Situs judol #blokir #indonesia #admin #Kasus Judi Online #korban banjir di Siak Kecil