BLITAR - Kabupaten Blitar tak hanya menyimpan sejarah dan budaya yang kaya, tapi juga menyuguhkan keindahan alam yang memukau. Salah satu destinasi yang kini mulai menarik perhatian pelancong adalah Air Terjun Sirah Kencong. Sebuah permata tersembunyi di tengah rimbunnya kawasan perkebunan di lereng Gunung Kawi.
Dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Himatarian, destinasi ini menjadi oase alami yang menawarkan lebih dari sekadar keindahan panorama.
Ketua pengelola wisata Air Terjun Sirah Kencong, Hedi Sunu Wicaksono, menjelaskan bahwa tempat ini telah lama dikelola oleh warga sekitar dengan semangat kebersamaan dan pelestarian.
“Rata-rata kunjungan wisata mencapai 3.000 sampai 5.000 orang setiap bulan. Tapi kalau pas momen liburan seperti Lebaran atau tahun baru, bisa tembus dua kali lipat. Bahkan saat Nataru 2025 kemarin sempat sampai 2.000 orang per hari,” ungkap pria yang akrab disapa Kodrat ini.
Namun untuk mencapai air terjun ini tidaklah semudah membalik telapak tangan. Pengunjung harus melewati jalan berbatu dan menanjak sejauh beberapa kilometer dari area parkir. Tapi, tantangan itu bukan tanpa solusi. Kodrat menyebutkan, warga menyediakan jasa ojek lokal dengan tarif Rp 10.000 per orang agar wisatawan bisa lebih mudah menjangkau lokasi air terjun.
“Meskipun aksesnya cukup menantang, justru itu yang menjadi daya tarik tersendiri. Alamnya masih asli dan udara di sini sejuk sekali,” katanya.
Dengan membayar retribusi Rp 6.000, pengunjung bisa menikmati seluruh kawasan wisata, termasuk kejernihan air terjun dan sebuah keunikan lain yang jarang ditemukan di tempat lain: mata air siap minum yang mengalir langsung dari sumber alami. Menurut Kodrat, mata air ini sudah diuji di laboratorium dan dinyatakan aman serta baik untuk kesehatan.
“Banyak pengunjung yang bawa botol sendiri, bahkan ada komunitas dari Surabaya yang tiap tahun datang ke sini cuma untuk ambil air. Mereka bawa galon-galon besar. Itu jadi tradisi bagi mereka,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski punya potensi besar, Kodrat mengaku belum melakukan promosi secara masif. Dia dan tim pengelola memilih untuk lebih mempersiapkan infrastruktur dan kenyamanan pengunjung sebelum mengenalkan destinasi ini ke khalayak lebih luas.
“Kami tidak ingin promosi besar-besaran dulu. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena kami ingin wisatawan yang datang nanti puas dan tidak kecewa. Kalau sudah siap semuanya, baru kami akan bergerak,” tegasnya. (hai/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah